BAB
: 1
Kisah
Mudzoffar
Tahun
1944 ( zaman Jepang ) Mudzoffar dalam usia 7 tahun, sekolah di Madrasah
Batu.Konon ceritanya sering memetik buah jarak untuk disetorkan kepada
Pemerintah Jepang. Lagu Kimigayo setiap pagi dilantunkan dalam upacara di
sekolahan dengan menghadap ke timur laut ( posisi negara Jepang dari Indonesia
). Menghadapi kemerdekaan, beliau berbaris sambil membawa bendera jepang di
tangan kirinya, dan tangan kanannya membawa bendera Merah Putih. Pada Agustus
1945 naik kelas 2. Dan tahun 1947 masuk SR ( Sekolah Rakyat ) dan mengulangi
kelas 1 lagi. Pada saat itu kekuasaan Jepang diserahkan ke Belanda. Pada tahun
1952-1953 mendapat ijazah SR. Tahun 1953 beliau masuk SMP Islam angkatan
pertama. Dan di sekolah tersebut diajari gitar oleh temannya yang berasal dari
Surabaya, Mulyono ( saat ini Dosen UMM Malang ). Saat itu di Kota Batu belum
ada orang yang punya atau bisa memainkan guitar, Mudzoffar sudah sering membawa
guitar kemana – mana walaupun itu adalah guitar pinjaman dari Mulyono. Beliau
menggunakan kesempatan itu untuk belajar ke pemilik guitar tersebut. Tahun 1954
mendirikan grup musik melayu pertama kali di Kota Batu yang dinamakan OM. Sinar
Harapan.
Mudzoffar
juga pernah diajari oleh salah satu personil OM Sinar Kumala, Surabaya (Orkes
terkenal di Jawa Timur saat itu). Ceritanya pada saat baru-barunya lagu
Keagungan Tuhan, Malik Bedhes menginap di Batu hanya dengan beber kloso ( gelar tikar ), jam 19.00
sampai jam 23.00 Mudzoffar diajarinya lagu Keagunga Tuhan dengan Accordion.
Malik Bedhes adalah Pencipta lagu Keagungan Tuhan juga Pemain Accordion OM
Sinar Kumala, Sby.
Untuk
melihat permainan biola Mudzoffar dengan lagu Kimigayo (National Anthem of Japan),
silahkan mengunjungi di situs : http://www.youtube.com/watch?v=WLktO_zwqt0
-
Biografi
Nama :
Mudzoffar
Tempat/
TglLahir : Batu, 10 November 1937
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta/
Penjahit
Orang
Tua : Abdul Mukhid dan Satumi
Istri : Muzayanah
Anak :
1. Lilik
Munawaroh
2. Khusnur
Rofik
3. Ali
Mustofa
4. Khilmi
Andriyani
5. Zaenal
Arifin
Jumlah Cucu : 13
Riwayat Pendidikan :
1. Madrasah
di Batu : tahun 1944
2. SR
( Sekolah Rakyat ) : tahun 1947 – 1953
3. SMP
Katolik :
selama 2 bulan
4. SMI/
SMP Islam ( Angkatan Pertama ) : tahun
1953
Karir :
- Pendiri Grup Musik Pertama di Kota Batu “ OM Sinar Harapan “ tahun 1954
- Personil Marching Band Pertama Kota
Batu “ Pemuda Muhammadiyah “ juara I
dalam festifal Marching Band Pemuda Pertama di Surabaya Tahun 1963. Berita
dimuat dalam Surat Kabar “ Merdeka “
pada saat itu.
- Marching Band “ Pemuda Muhammadiyah”
Batu mendapat undangan dari Presiden Pertama Ir. Soekarno dalam Konferensi
Islam Asia Afrika pada tahun 1965 di Gedung Merdeka, Bandung.
Organisasi :
§ Partai
Muslimin Indonesia
§ Pemuda
Muhammadiyah tahun 1963
§ Muhammadiyah
sampai saat ini

Foto
SMI (Sekolah Menengah Islam) angkatan I
sekarang
SMP Islam Batu.
Foto
Mudzoffar dalam tanda panah
-
Marching
Band Pertama di Indonesia

Foto
Marching Band “Pemuda Muh” Batu, Undangan di Kota Sidoarjo

Foto Marching Band “Pemuda
Muhammadiyah” Batu, Pemenang Juara I
dalam Festifal Marching Band
Se-Indonesia pada tahun 1963
Strat : Masjid di Perak- Surabaya jam 06.00 WIB
Finish : Balai Kota Surabaya jam 20.30 WIB
Personil
Marching Band “Pemuda Muhammadiyah” Batu :
Mudzoffar, Zubaidi
Hasan, Taufik, Mat, Pi’I, Hari, Kohar, Chamim, Ali Fiyono, Seno, Jaka, Syaroni,
Trubus, Mat Chan, Malik, Dul Bagi, Arifin, Mat Kur, Pandik, Karimun, Sukur,
Suliyan. ( kurang lebih 36 personil pria dan 36 personil wanita).
Berkat Juara I dalam
Festifal, akhirnya Bung Karno ( Presiden RI Pertama) mengundang marching Band
dalam acara Konferensi Islam Asia Afrika di Gedung Merdeka, Bandung pada tahun
1965. Saat itu Marching Band memberi hadiah untuk Bung Karno, 4 buah Bolera (
gambang ) dimasukkan dalam peti.
Karena banyak
permintaan, beberapa personil marching band dikirim ke luar Pulau Jawa untuk
melatih marching band di sana, seperti Lombok, Lampung, Banjar. Sedangkan
sebagian personil lain melatih diberbagai daerah/ Kabupaten di P. Jawa.
Mudzoffar melatih
Marching Band “Pemuda Anshor” di Pujon (desa Wiyu). Materi yang di ajarkan
adalah Metode TNI yakni seperti cara berbaris, buka barisan, putar barisan dll.
Mengenai Peralatan dan
Perlengkapan Marching Band sebagian ada yang buat sendiri. Seperti Drum buatan
pabrik yang dipakai sekarang ini terbuat dari mika, dulu buat sendiri dari
kulit. Kalau terkena air hujan bunyinya tidak nyaring. Stik pemukul drum yang buat salah satu personil Marching Band,
Chamim. Gambang, kostum dan topi TNI AL
juga buat sendiri.
Jadi kesimpulannya
semua Marching Band Pemuda termasuk juga Pelajar saat ini, pada awalnya berasal
dari didikan Marching Band “Pemuda Muhammadiyah” Batu yang diwariskan secara
turun temurun sampai sekarang ini. Kita sebagai Pemuda Indonesia sepatutnya
berterima kasih kepada Marching Band “Pemuda Muhammadiyah” Batu yang telah
memberikan teladan kepada kita semua.
-
Iklan
Kota
-
Sejarah
Perjalanan Dunia Musik
|
Tahun
|
Keterangan
|
|
1954
|
Mudzoffar
mendirikan group music melayu dinamakan “ OM. Sinar Harapan “ di Batu-Jatim_Indonesia.Alat music hanya
kendang, guitar dan caracas
|
|
1956
|
Group music tersebut menambah alat music
dengan membeli Harmonica dan Harmonium India
|
|
1957
|
Membeli
Accordion dan 4 buah Biola
|
|
1959
|
OM. Sinar
Harapan bubar alias berhenti
|
|
1958-1960
|
Mudzoffar
ikut “OM. Melati” pimpinan Bang Thoyib,di Malang-Jatim sbg pemain biola
|
|
1958-1961
|
Mudzoffar
ikut “OM. Sekuntum Melati” sbg pemain biola dan sering pentas di Pasuruan
pada masa itu.
|
|
1957-1962
|
Mudzoffar
ikut group Keroncong “ Indra Killa” di Pesanggrahan Batu dengan bos oleh P.
Raden Reno (mantan Bupati Modo/ Bojonegoro)
|
|
1959
|
Mendirikan
“OM. Sinar Bintang” dengan anggota sopir-sopir Stamplat (Terminal) Batu.
|
|
1959
|
Ikut “OM.
Kenangan” di Pujon tepatnya di desa Ndelik
|
|
1972-1975
|
Ikut Group
Theater Dakwah Islam “LES BUMI” ( Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) di
Gondang-Ketangi-Karang Ploso-Malang ( sebelah utara UNMUH Malang)
|
|
Saat ini
2011
|
Setelah
LES BUMI bubar, sampai saat ini Mudzoffar ikut Grup Keroncong sbg pemain
biola. Dan ikut Orkes Dangdut sbg pemain Accordion.
|
Pengalaman
Jual Beli Biola:
-
Biola Lokal sebanyak 14 buah
-
Biola Eropa sebanyak 3 buah
-
Yang satu Biola Stradivarius 1725 belum
dijual sampai sekarang.
-
Foto
OM Sinar Harapan

Mudzoffar
(Pendiri Orkes) berdiri belakang tengah/ tidak pakai dasi. Tahun
1954
Grup belum memiliki biola.

Mudzoffar
duduk paling kanan. Foto tahun 1957 dan sudah memiliki biola.

Konser
OM Sinar Harapan pada tahun 1957. Mudzoffar memainkan biola
-
Foto
OK Melati

Mudzoffar
memainkan biola dalam konser Orkes Keroncong Melati
BAB
: 2
Tentang
Biola Stradivarius
-
Ciri
Biola Stradivarius Pada Label
A label of Antonius Stradivarius Cremonensis? |
|
Have you
found a violin with the label "Antonius Stradivarius
Cremonensis"? Keep cool. It's almost certainly a fake. In the past
some restorers have stuck labels (genuine or forged) inside instruments of
various origins and there has been a proper business in labels, apart from
the selling of violins. There have also been cases of old-time violin makers
who would put the names of other contemporary makers on their own violins.
Nowadays, no violin expert would judge the value of a violin by its label. Labels such as "Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno 17", followed or not by circles with crosses, initials or other particular signs are made (in series) to be completed before being stuck on the instrument: actually "... Anno 17" shows only the first two numerals of any year of the 18th century. A complete label should read "... Anno 1715" or "... Anno 1707", or at least an year of the 18th century. There are also cases where you can't even seriously talk of fakes. A label like the following: "Antonius Stradivarius Cremonensis / Faciebat Anno 1721 / Made in Bohemia" is a joke rather a fake, considering that Stradivari never learned English. |
|
However,
if you wish to learn more about the quality of the instrument you should take
it to a violin maker, who will let you know if it is a good quality
instrument. He may not be able to give you details of the period or school,
but will be able to tell you if it was made by a good craftsman or on an
assembly line. The addresses of violin makers, under the headings of States,
can be found in the Reports of magazines for enthusiasts such as "Strad"
or "String".
If, after the first check, the violin maker recognizes a particular quality in the instrument, it may be worth while asking for a specialist's appraisal (Expertise) on the part of an expert and connoisseur (usually a restorer or well-known maker) who will issue a certificate of attribution and an estimate of the instrument's value. |
|
The cost
of the expert's survey is, as a rule, quite modest if it concerns merely a
verbal evaluation. There is, instead, a fixed price and a percentage of the
instrument's value when a certificate evaluation is wanted.
If you so wish, you can have a first opinion from the expert violin makers of the Cremona School of Violin Making (Scuola di Liuteria) sending photographs or colour slides taken in the most professional manner, with shots of the whole instrument and of its details. The evaluation may not be infallible (to value an instrument is not the same thing as valuing its photo), but it is possible to get a general indication. It's the best that can be done without having the instrument to hand. |
|
Copyright © 1995 1996 internet graffiti
April 1996 |
a.
Perbandingan
Asli dan Repro/tiruan/copy
1.
Foto
Label Strad 1725 (asli)
Tulisan
Label : “ Antonius Stradiuarius Cremonensis
Faciebat
Anno 1725 ”.

2.
Foto
Label Repro/ Copy
![2012-02-18 18[1].49.41.jpg](file:///C:\Users\adanet4\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image019.gif)
Tulisan Label : “ Antonius
Stradiuarius Cremonensis Faciebat Anno 1721.” Made in Bohemia
Ket : Biola ini menunjukkan tiruan/
copy dari Bohemia. Tidak asli buatan
Stradivari.

Tulisan Label : “ Antonius
Stradiuarius Cremo
nensis Faciebat Anno 1694.”
Ket : Kata “Cremonensis” terpotong
menjadi 2, di atas dan di bawah menunjukkan biola ini repro atau tiruan.

Label
Biola Stradivarius Copy buatan Chekoslowakia
b.
Contoh
biola Strad Asli
1.
Biola
Strad milik Philippe Quint

2.
Lady
Blunt
Inilah Biola
Yang Bernilai Rp 84,2 M [Wow] –
Lady Blunt
Stradivarius bukanlah nama seorang wanita, melainkan sebuah biola yang dijuluki
Monalisanya instrumen berdawai. Biola ini laku terjual dengan harga 9.8 juta
poundsterling atau Rp 84,2 milliar. Hmmm… apa istimewanya?


Lady Blunt Stradivarius
Biola ini milik Nippon Music Foundation, sebuah lembaga Jepang yang didirikan untuk memasyaratkan musik dan punya banyak koleksi instrumen antuk yang bernilai tinggi. Kemudian, yayasan ini akhirnya menjual biola ini dengan melelangnya untuk membantu pemulihan pasca bencana gempa dan tsunami di Jepang beberapa waktu lalu.
Seperti yang dilansir dari Daily Mail, Selasa (21/06) kemarin, karena keunikannya dan dengan tujuan sosial, tentu biola ini banyak peminatnya. Ketika dilelang di rumah lelang Tarisio di London, banyak orang yang tertarik. Akhirnya biola ini jatuh ke tangan orang yang tidak mau disebutkan namanya.
Menurut Kazuko Shiomi, presiden yayasan itu mengatakan biola itu sangat penting bagi koleksinya. “Tetapi mengingat kebutuhan saudara-saudara kami warga Jepang setelah tragedi 11 Maret, kami harus membantu dengan apa pun yang bisa kami berikan,” katanya.
“Sumbangan itu akan disalurkan secepat mungkin kepada yang berhak,” kata Kazuko menambahkan.
Stradivarius, yang dikenal sebagai pembuat biola terbaik, membuat biola Lady Blunt itu pada 1721. Namun, biola itu baru mendapatkan namanya 150 tahun setelah itu ketika dimiliki Lady Anne Blunt, musisi berbakat cucu Lord Byron.
Menurut Jason Price, direktur Tarisio, The Lady Blunt merupakan biola paling penting yang bisa dibeli kolektor saat ini. Ini merupakan biola dalam kondisi terbaik yang pernah terjual dalam 100 tahun terakhir.
“Di dunia instrumen berdawai, ini setara dengan Mona Lisa-nya Leonardo da Vinci atau David-nya Michelangelo,” kata Jason.
Stradivarius merupakan biola yang dibuat oleh keluarga Stradivari asal Italia. Tokoh terpenting dalam keluarga ini adalah Antonio Stradivari.
-
Biola
Strad 1725 mirip dengan Strad 1703

Antonio Stradivari violin (1703). Leonardo Da Vinci Violin (1725),
On exhibit at Musikinstrumenten dimiliki
Mudzoffar, Batu - Jatim
Museum, Berlin Indonesia
-
Stradivarius
1725 terbaik dari yang lain
Stradivarius Violins |
|
Related Links
|
||
|
Antonio Stradivari (1644? - December 18, 1737) was an Italian luthier (maker of violins and other stringed instruments), the most prominent member of that profession. The Latin form of his surname, "Stradivarius" - sometimes shortened to "Strad" - is often used to refer to his instruments.
In 1680 Stradivari set up for himself in the Piazza San Domenico, and his fame as a instrument-maker was soon established. He now began to show his originality, and to make alterations in Amati's model. The arching was improved, the various degrees of thickness in the wood were more exactly determined, the formation of the scroll altered, and the varnish more highly coloured. His instruments are recognized by their inscription in Latin: Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno [date] (Antonio Stradivari, Cremona, made in the year ...). It is generally acknowledged that his finest instruments were manufactured from 1698 to 1725 (peaking around 1715), exceeding in quality those manufactured between 1725 and 1730. After 1730, some of the instruments are signed sub disciplina Stradivarii, and were probably made by his sons, Omobono and Francesco. Apart from violins, Stradivari also made harps, guitars, violas, and cellos — more than 1,100 instruments in all, by current estimate. About 650 of these instruments survive today. Antonio Stradivari died in Cremona, Italy on December 18, 1737 and is buried in the Basilica of San Domenico in Cremona. His instruments are regarded as amongst the finest stringed instruments ever created, are highly prized, and still played by professionals today. Only one other maker, Joseph Guarneri del Gesu, commands the same respect among violin soloists. The highest price paid at a public auction for a Stradivarius was £947,500 ($1.6 million) for the "Kreutzer Strad" at Christie's in London, 1998. Private sales are often double that, or more, for the best examples. Other famous Stradivarius instruments are the Davidov Strad, a cello currently owned and played by Yo-Yo Ma, and the Duport Strad cello owned by Mstislav Rostropovich. The Soil Strad of 1714 is owned by virtuoso Itzhak Perlman, and many consider it amoung the finest of all strads. The world's two largest publically-accessible collections of Stradivari instruments belong to the King of Spain, consisting of two violins, two cellos, and a viola, exhibited in the Music Museum at the former Royal Palace (Palacio Real) in Madrid, and the U.S Library of Congress' collection of three violins, a viola, and a cello. |
-
Foto
Strad 1725 dalam berbagai Posisi






-
Daftar
Biola Stradivarius yang Asli
Sebelum
anda membeli biola Stradivarius, cukup periksa kembali daftar biola buatan
Antonius Stradivari yang asli di bawah ini. Jangan terpengaruh dengan
cerita-cerita yang tidak bias dipertanggung jawabkan dan tidak ada buktinya.
VIOLINS:
|
Sobriquet
|
Year
|
Provenance
|
Notes
|
|
|
ex-Back
|
1666
|
Royal Academy of Music
|
currently displayed as part of Royal Academy’s York
Gate Collection
|
|
|
Dubois
|
1667
|
Canimex Foundation
|
on loan to Alexandre da Costa
|
|
|
Aranyi
|
1667
|
Francis Aranyi (collector)
|
sold at Sotheby’s London, 12 November 1986
|
|
|
ex-Captain Saville
|
1667
|
Jean-Baptiste Vuillaume;
Captain Saville (1901-1907) |
||
|
Amatese
|
1668
|
though listed in many reference books as one of
Stradivari’s earliest instruments, the modern consensus is that it is not a
Stradivari; it was sold Sotheby’s New York 3 February 1982 as “an interesting
violin.”
|
||
|
Oistrakh
|
1671
|
David Oistrakh
|
Stolen from the Museum of Musical Culture in Russia in
May 1996 but recovered in 2001.
|
|
|
Sellière
|
1672
|
Charles IV of Spain
|
||
|
Spanish
|
1677
|
Finnish Cultural Foundation
|
on loan to Elina Vähälä
|
|
|
Hellier
|
1679
|
Sir Samuel Hellier
|
Smithsonian Institution
|
|
|
Paganini-Desaint
|
1680
|
Nippon Music Foundation
|
this violin along with the Paganini-Comte Cozio di Salabue violin of
1727, the Paganini-Mendelssohn
viola 1731, and Paganini-Ladenburg
cello of 1736, compose a group of instruments referred to as the Paganini Quartet; on
loan to Kikuei Ikeda of the Tokyo String Quartet
|
|
|
1680
|
The collection of Mr & Mrs Rin Kei Mei
|
|||
|
Fleming
|
1681
|
|||
|
Bucher
|
1683
|
|||
|
Cipriani Potter
|
1683
|
|||
|
Cobbett; ex-Holloway
|
1683
|
on loan to Sejong brokered by the Stradivari Society
|
||
|
ex-Croall
|
1684
|
WestLB
|
||
|
ex-Elphinstone
|
1684
|
|||
|
ex-Arma Senkrah
|
1685
|
|||
|
ex-Castelbarco
|
1685
|
|||
|
Goddard
|
1686
|
Miss Goddard; Antonio Fortunato
|
||
|
Ole Bull
|
1687
|
Ole Bull (1844);
Dr. Herbert Axelrod (1985-1997) |
Donated to the Smithsonian Institution in 1997 by
Herbert R. Axelrod. Now part of the Axelrod quartet.
|
|
|
Mercur-Avery
|
1687
|
on loan to Jonathan Carney, concertmaster of the
Baltimore Symphony Orchestra since 2002
|
||
|
1688
|
The collection of Mr & Mrs Rin Kei Mei
|
|||
|
Auer
|
1689
|
on loan to Vadim Gluzman brokered by the Stradivari
Society
|
||
|
Arditi
|
1689
|
Dextra musica AS, Norway
|
on loan to Elise BÃ¥tnes, concertmaster, Oslo
Philharmonic
|
|
|
Baumgartner
|
1689
|
Canada Council for the Arts
|
on loan to Judy Kang
|
|
|
Spanish I
|
1689
|
Patrimonio Nacional, Palacio Real, Madrid, Spain
|
date range 1687-1689; part of a duo of violins (Spanish I and II)
referred to as los
Decorados, and los
Palatinos; also collectively known as del Cuarteto Real (The Royal Quartet) when
included with the Spanish
Court viola (1696) and cello (1694).
|
|
|
Spanish II
|
1689
|
Patrimonio Nacional, Palacio Real, Madrid, Spain
|
date range 1687-1689; part of a duo of violins (Spanish I and II)
referred to as los
Decorados, and los
Palatinos; also collectively known as del Cuarteto Real (The Royal Quartet) when
included with the Spanish
Court viola (1696) and cello (1694).
|
|
|
Bingham
|
1690
|
|||
|
Bennett
|
1692
|
Winterthur-Versicherungen
|
on loan to Hanna Weinmeister
|
|
|
Falmouth
|
1692
|
on loan to Leonidas Kavakos
|
||
|
Gould
|
1693
|
George Gould
Metropolitan Museum of Art |
bequeathed by Gould to the Metropolitan Museum in 1955
|
|
|
Harrison
|
1693
|
Richard Harrison; Henry Hottinger; Kyung-wha Chung
|
in the collection of the National Music Museum
|
|
|
Baillot-Pommerau
|
1694
|
Formerly owned by Arthur Catterall, then by Alfredo
Campoli
|
||
|
Rutson
|
1694
|
Royal Academy of Music
|
on loan to Clio Gould
|
|
|
Fetzer
|
1695
|
|||
|
1697
|
Edvin Marton
|
Dima Bilan, together with Evgeni Plushenko, and Edvin
Marton playing his Stradivarius, won the Eurovision Song Contest 2008
|
||
|
Cabriac
|
1698
|
|||
|
Baron Knoop
|
1698
|
one of eleven Stradivari violins associated with Baron
Johann Knoop
|
||
|
Joachim
|
1698
|
Royal Academy of Music
|
||
|
Duc de Camposelice
|
1699
|
|||
|
Lady Tennant; Lafont
|
1699
|
Charles Phillipe Lafont;
Marguerite Agaranthe Tennant |
on loan to Xiang Gao brokered by the Stradivari
Society; sold at Christie’s auction US$2.032 million, April 2005
|
|
|
Longuet
|
1699
|
|||
|
Countess Polignac
|
1699
|
on loan to Gil Shaham.
|
||
|
Castelbarco
|
1699
|
Library of Congress
|
Presented by Gertrude Clarke Whittall
|
|
|
Kustendyke
|
1699
|
Royal Academy of Music
|
||
|
Crespi
|
1699
|
Royal Academy of Music
|
||
|
The Penny
|
1700
|
Barbara Penny
|
||
|
Dragonetti
|
1700
|
Nippon Music Foundation
|
Formerly owned by Alfredo Campoli
|
|
|
Jupiter
|
1700
|
Giovanni Battista Viotti
|
||
|
Taft; ex-Emil Heermann
|
1700
|
Canada Council for the Arts
|
on loan to Renée‑Paule Gauthier
|
|
|
Dushkin
|
1701
|
on loan to Dennis Kim, concertmaster, Seoul Philharmonic
Orchestra
|
||
|
Markees
|
1701
|
Music Chamber
|
||
|
Irish
|
1702
|
OKO Bank, Finland
|
on loan to Réka Szilvay
|
|
|
Conte de Fontana; ex-Oistrach
|
1702
|
David Oistrakh (1953-1963); Riccardo Brengola;
Pro Canale Foundation
|
Oistrakh’s first violin; on loan to Mariana Sirbu
|
|
|
Lukens; Edler Voicu
|
1702
|
A.W. Lukens; Jon Voicu; Romania Culture Ministry
|
on loan to Alexandru Tomescu through 2012
|
|
|
King Maximilian Joseph
|
1702
|
|||
|
Lyall
|
1702
|
|||
|
Antonio Stradivari
|
1703
|
Bundesrepublik Deutschland
|
on exhibit at Musikinstrumentenmuseum,
Berlin
|
|
|
La Rouse Boughton
|
1703
|
Österreichische Nationalbank
|
on loan to Boris Kuschnir of the Kopelman Quartet
|
|
|
Lord Newlands
|
1702
|
Nippon Music Foundation
|
on loan to Toru Yasunaga
|
|
|
Allegretti
|
1703
|
|||
|
Alsager
|
1703
|
|||
|
Lady Harmsworth
|
1703
|
Paul Bartel
|
on loan to Kristof Barati brokered by the Stradivari
Society
|
|
|
Emiliani
|
1703
|
Anne-Sophie Mutter
|
||
|
ex-Foulis
|
1703
|
on loan to Karen Gomyo
|
||
|
Betts
|
1704
|
U.S. Library of Congress
|
Presented by Gertrude Clarke Whittall
|
|
|
Sleeping Beauty
|
1704
|
L-Bank Baden-Wurttemberg
|
on loan to Isabelle Faust. One of the few Stradivari
violins to have retained original neck.
|
|
|
ex-Marsick; ex-Oistrach
|
1705
|
David Oistrach
|
acquired in trade by Oistrach for the 1702 Conte di Fontana
|
|
|
“ex-Tadolini”
|
1706
|
The collection of Mr & Mrs Rin Kei Mei
|
||
|
ex-Brüstlein
|
1707
|
Österreichische Nationalbank
|
||
|
La Cathédrale
|
1707
|
|||
|
Hammer
|
1707
|
Christian Hammer (collector)
|
sold at Christie’s New York on 16 May 2006 for a record
US$3,544,000 (€2,765,080) after five minutes of bidding
|
|
|
Burstein; Bagshawe
|
1708
|
owned by the Jacobs family, loaned to Jeff Thayer, San
Diego Symphony concertmaster
|
||
|
Huggins
|
1708
|
Nippon Music Foundation
|
on loan to Sergey Khachatryan
|
|
|
Ruby
|
1708
|
on loan to Chen Xi brokered by the Stradivari Society
|
||
|
Strauss
|
1708
|
on loan to Chee-Yun brokered by the Stradivari Society
|
||
|
Greffuhle
|
1709
|
Donated to the Smithsonian Institution in 1997 by
Herbert R. Axelrod. Now part of the Axelrod quartet.
|
||
|
Berlin Hochschule
|
1709
|
|||
|
Hammerle; ex-Adler
|
1709
|
Österreichische Nationalbank
|
on loan to Werner Hink
|
|
|
Ernst
|
1709
|
on loan to Zsigmondy Dénes through 2003
|
||
|
Engleman
|
1709
|
Nippon Music Foundation
|
on loan to Lisa Batiashvili
|
|
|
King Maximilian; Unico
|
1709
|
Axel Springer Foundation
|
on loan to Michel Schwalbé, concert master of the
Berlin Philharmonic (1966-1986); reported stolen in 1999
|
|
|
Viotti; ex-Bruce
|
1709
|
Royal Academy of Music
|
purchased in 2005 for GB£3.5 million
|
|
|
Marie Hall
|
1709
|
Giovanni Battista Viotti;
The Chi-Mei Collection |
named after the violinist, Marie Hall
|
|
|
ex-Kempner
|
1709
|
on loan to Soovin Kim
|
||
|
Camposelice
|
1710
|
Nippon Music Foundation
|
on loan to Kyoko Takezawa
|
|
|
Lord Dunn-Raven
|
1710
|
Anne-Sophie Mutter
|
||
|
ex-Roederer
|
1710
|
on loan to David Grimal.
|
||
|
ex-Vieuxtemps
|
1710
|
on loan to Samuel Magad, concertmaster, Chicago
Symphony Orchestra
|
||
|
the Lady Inchiquin
|
1711
|
previously owned by Fritz Kreisler
|
played by Frank Peter Zimmermann, a German banking
company, WestLB AG, bought it for his use.
|
|
|
Earl of Plymouth; Kreisler
|
1711
|
Los Angeles Philharmonic
|
found in store room on the estate of the Earl of
Plymouth along with The
Messiah and Alard
violins in 1925; purchased by Fritz Kreisler in 1928 and subsequently sold by
him in 1946
|
|
|
Liegnitz
|
1711
|
previously owned by Szymon Goldberg
|
||
|
Le Brun
|
1712
|
Niccolò Paganini; Charles LeBrun; Otto Senn;
|
sold at Sotheby’s auction 13 November 2001
|
|
|
Karpilowsky
|
1712
|
Harry Solloway
|
missing: stolen in 1953 from Solloway’s residence in
Los Angeles
|
|
|
Schreiber
|
1713
|
|||
|
Antonio Stradivari
|
1713
|
|||
|
Boissier
|
1713
|
|||
|
Daniel
|
1713
|
on loan to Jhon Paul Reynols
|
||
|
Gibson; ex-Huberman
|
1713
|
Bronisław Huberman;
Joshua Bell |
stolen twice from Huberman
|
|
|
Lady Ley
|
1713
|
Stradivarius family
|
now bought by Jue Yao – Chinese violinist
|
|
|
Wirt
|
1713
|
|||
|
Dolphin; Delfino
|
1714
|
Jascha Heifetz;
Nippon Music Foundation |
on loan to Akiko Suwanai
|
|
|
Soil
|
1714
|
Amédée Soil; Yehudi Menuhin; Itzhak Perlman
|
Subject of the Quest “Agatha’s Song” in the video game
Fallout 3.
|
|
|
ex-Berou; ex-Thibaud
|
1714
|
|||
|
Le Maurien
|
1714
|
missing: stolen 2002
|
||
|
Leonora Jackson
|
1714
|
|||
|
Sinsheimer; General Kyd; Perlman
|
1714
|
Itzhak Perlman David L. Fulton
|
||
|
Smith-Quersin
|
1714
|
Österreichische Nationalbank
|
on loan to Rainer Honeck
|
|
|
Alard-Baron Knoop
|
1715
|
|||
|
Baron Knoop; ex-Bevan
|
1715
|
|||
|
ex-Bazzini
|
1715
|
|||
|
Cremonese; ex-Harold, Joseph Joachim
|
1715
|
Municipality of Cremona
|
||
|
Duke of Cambridge; Ex-Pierre Rode
|
1715
|
NPO “Yellow Angel”
|
on loan to Ryu Goto
|
|
|
Joachim
|
1715
|
Nippon Music Foundation
|
on loan to Sayaka Shoji
|
|
|
Lipinski
|
1715
|
on loan to Milwaukee Symphony Orchestra concertmaster,
Frank Almond
|
||
|
ex-Marsick
|
1715
|
on loan to James Ehnes
|
||
|
Titian
|
1715
|
Jacob Lynam
|
||
|
Cessole
|
1716
|
|||
|
Berthier
|
1716
|
Baron Vecsey de Vecse; Franco Gulli
|
||
|
Booth
|
1716
|
Nippon Music Foundation
|
on loan to Shunsuke Sato; formerly loaned to Arabella
Steinbacher; formerly loaned to Julia Fischer
|
|
|
Colossus
|
1716
|
missing: stolen 1998
|
||
|
Duranti
|
1716
|
Mariko Senju
|
||
|
Monasterio
|
1716
|
Cyrus Forough
|
||
|
Provigny
|
1716
|
|||
|
Messiah-Salabue
|
1716
|
Ashmolean Museum Oxford
|
on exhibit at the Oxford Ashmolean Museum
|
|
|
ex-Windsor-Weinstein; Fite
|
1716
|
Canada Council for the Arts
|
on loan to Caroline Chéhadé
|
|
|
Baron Wittgenstein
|
1716
|
The Bulgarian state
|
on loan to Mincio Mincev since 1979
|
|
|
Gariel
|
1717
|
|||
|
ex-Wieniawski
|
1717
|
|||
|
Kochanski
|
1717
|
Pierre Amoyal
|
reported stolen in 1987; recovered in 1991
|
|
|
Sasserno
|
1717
|
Nippon Music Foundation
|
on loan to Viviane Hagner
|
|
|
Viotti; ex-Rosé
|
1718
|
Giovanni Battista Viotti;
Österreichische Nationalbank |
on loan to Volkhard Steude
|
|
|
Chanot-Chardon
|
1718
|
Timothy Baker;
Joshua Bell |
shaped like a guitar; on loan to Simone Lamsma
|
|
|
Firebird; ex-Saint Exupéry
|
1718
|
Salvatore Accardo
|
name is taken from the colouration of the varnish and
its brilliant sound.
|
|
|
Marquis de Riviere
|
1718
|
Daniel Majeske
|
played by Majeske while concertmaster of the Cleveland
Orchestra from 1969-1993
|
|
|
San Lorenzo
|
1718
|
Georg Talbot
|
on loan to David Garrett, while his Guadagnini is
repaired. Initial news reports erroneously stated it was the San Lorenzo he had
smashed.
|
|
|
ex-Count Vieri”
|
1718
|
The collection of Mr & Mrs Rin Kei Mei
|
||
|
Lauterbach
|
1719
|
Johann Christoph Lauterbach; J.B. Vuillaume; Charles
Philippe Lafont
|
||
|
Madrileño
|
1720
|
|||
|
von Beckerath
|
1720
|
Michael Antonello
|
||
|
Sinsheimer; Iselin
|
1721
|
reported stolen near Hanover, Germany in 2008;
recovered in 2009.
|
||
|
Lady Blunt
|
1721
|
Paolo Stradivari
|
named after Lady Anne Blunt, daughter of Ada Lovelace,
granddaughter of Lord Byron.
|
|
|
Jean-Marie Leclair
|
1721
|
Jean-Marie Leclair;
|
on loan to Guido Rimonda
|
|
|
Red Mendelssohn
|
1721
|
Mendelssohn Family;
Elizabeth Pitcairn |
inspiration for the 1998 film The Red Violin
|
|
|
The Macmillan
|
1721
|
On Loan to Ray Chen through Young Concert Artists
|
||
|
Artot
|
1722
|
|||
|
Jules Falk
|
1723
|
Viktoria Mullova
|
||
|
Jupiter; ex-Goding
|
1722
|
Nippon Music Foundation
|
on loan to Daishin Kashimoto; formerly Midori Goto
|
|
|
Laub-Petschnikoff
|
1722
|
|||
|
Elman
|
1722
|
Chi Mei Museum
|
||
|
Cádiz
|
1722
|
Joseph Fuchs
|
on loan to Jennifer Frautschi; named after the city of
Cádiz, Spain.
|
|
|
Kiesewetter
|
1723
|
Clement and Karen Arrison
|
on loan to Philippe Quint brokered by the Stradivari
Society Left by Quint in taxi on 21 April 2008, and recovered the following
day.
|
|
|
Earl Spencer
|
1723
|
on loan to Nicola Benedetti
|
||
|
Le Sarasate
|
1724
|
Musée de la Musique, Paris
|
bequeathed to the Conservatory by Pablo de Sarasate
|
|
|
Brancaccio
|
1725
|
Destroyed in an allied air raid on Berlin.
|
owned by Carl Flesch, until 1928 where it was sold to
Franz von Mendelssohn, banker and amateur violinist
|
|
|
Chaconne
|
1725
|
Österreichische Nationalbank
|
on loan to Rainer Küchel
|
|
|
Leonardo
da Vinci
|
1725
|
Da
Vinci family
|
?
|
|
|
Wilhelmj
|
1725
|
Nippon Music Foundation
|
on loan to Baiba Skride; one of several Stradivari
violins with the sobriquet “Wilhelmj”
|
|
|
Greville; Kreisler; Adams
|
1726
|
Fritz Kreisler
|
||
|
Baron Deurbroucq
|
1727
|
Baron Deurbroucq (The Hague)(1870);
Robert Crawford (Edinburgh); W.E. Hill & Sons (1902); Hans Wessely (1903-1926); David D. Walton (Boston) (1926); Emil Herrmann (19??-1945); Fredell Lack (1945-present) |
||
|
Barrere
|
1727
|
on loan to Janine Jansen brokered by the Stradivari
Society
|
||
|
Davidoff-Morini
|
1727
|
missing: stolen in 1995
|
||
|
ex-General Dupont
|
1727
|
Arthur Grumiaux
|
on loan to Jennifer Koh
|
|
|
Holroyd
|
1727
|
|||
|
Kreutzer
|
1727
|
Maxim Vengerov
|
one of four Stradivari violins with the sobriquet Kreutzer (1701, 1720,
1731)
|
|
|
Hart; ex-Francescatti
|
1727
|
Salvatore Accardo
|
||
|
Paganini-Comte Cozio di Salabue
|
1727
|
Nippon Music Foundation
|
this violin along with the Paganini-Desaint violin of 1680, the Paganini-Mendelssohn
viola of 1731, and the Paganini-Ladenburg
cello of 1736, compose a group of instruments referred to as the Paganini Quartet; on
loan to Martin Beaver of the Tokyo String Quartet
|
|
|
Halphen
|
1727
|
Angelika Prokopp Private Foundation
|
on loan to Eckhard Seifert
|
|
|
Vesuvius
|
1727
|
Antonio Brosa
Remo LauricellaTown of Cremona |
||
|
A. J. Fletcher; Red Cross Knight
|
1728
|
A. J. Fletcher Foundation
|
on loan to Nicholas Kitchen of the Borromeo String
Quartet; the instrument was made by Omobono Stradivarius
|
|
|
Artot-Alard
|
1728
|
Endre Balogh
|
a bench copy of this instrument was produced in 1996 by
Gregg Alf and Joseph Curtin, using modern materials and methods;Balogh
performs on both the 1728 original and the replica.
|
|
|
Dragonetti; Milanollo
|
1728
|
Giovanni Battista Viotti
|
on loan to Corey Cerovsek
|
|
|
Perkins
|
1728
|
Los Angeles Philharmonic
|
named after Frederick Perkins, formerly owned by Luigi
Boccherini
|
|
|
Benny
|
1729
|
Jack Benny;
Los Angeles Philharmonic |
bequeathed to the Los Angeles Philharmonic by Jack
Benny
|
|
|
Solomon, ex-Lambert
|
1729
|
Murray Lambert;
Seymour Solomon |
sold at Christie’s, New York for US$2,728,000
(€2,040,000)
|
|
|
Innes
|
1729
|
on loan to Eugen Sarbu; previously loaned to Wieniawski
|
||
|
Guarneri
|
1729
|
Canada Council for the Arts on loan to Nikki Chooi
|
on loan to Nikki Chooi
|
|
|
Royal Spanish
|
1730
|
Anne Akiko Meyers
|
once owned by the King of Spain
|
|
|
Lady Jeanne
|
1731
|
Donald Kahn Foundation
|
on loan to Benjamin Schmid
|
|
|
Garcin
|
1731
|
Jules Garcin; Sidney Harth
|
||
|
Heifetz-Piel
|
1731
|
Rudolph Piel;
Jascha Heifetz |
||
|
Baillot
|
1732
|
Fondazione Casa di Risparmio
|
lent to Giuliano Carmignola for the DG recording of Vivaldi: Concertos for Two Violins
|
|
|
Duke of Alcantara
|
1732
|
an obscure Spanish nobleman described as an
aide-de-camp of King Don Carlos; UCLA
|
Genevieve Vedder donated the instrument to the
University of California at Los Angeles’ music department in the 1960s. In
1967, the instrument was on loan to David Margetts. Whether it was left on
the roof of his car or stolen is uncertain, but for 27 years the violin was
considered missing until it was recovered from an amateur violinist who
claimed to have found it on a freeway. A settlement was made and the
Stradivarius was returned to UCLA in 1995.
|
|
|
Herkules
|
1732
|
Eugène Ysaÿe
|
missing: stolen in Russia in 1908
|
|
|
Red Diamond
|
1732
|
Louis Von Spencer IV
|
||
|
Tom Taylor
|
1732
|
previously loaned to Joshua Bell
|
||
|
Des Rosiers
|
1733
|
Angèle Dubeau
|
||
|
Huberman; Kreisler
|
1733
|
Bronisław Huberman;
Fritz Kreisler |
||
|
Khevenhüller
|
1733
|
Yehudi Menuhin
|
||
|
Rode
|
1733
|
|||
|
Ames
|
1734
|
missing: stolen in 1981
|
||
|
Baron Feilitzsch; Heermann
|
1734
|
Baron Feilitzsch;
Hugo Heerman Gidon Kremer |
||
|
Habeneck
|
1734
|
Royal Academy of Music
|
||
|
Herkules; Ysaye; ex-Szeryng; King David
|
1734
|
Eugène Ysaÿe;
Charles Münch; Henryk Szeryng; State of Israel |
||
|
Lord Amherst of Hackney
|
1734
|
Fritz Kreisler
|
||
|
Lamoureux; ex Zimbalist
|
1735
|
missing: stolen
|
||
|
Muntz
|
1736
|
Nippon Music Foundation
|
on loan to Arabella Steinbacher
|
|
|
ex.Roussy
|
1736
|
Chisako Takashima
|
||
|
Comte d’Amaille
|
1737
|
|||
|
Lord Norton
|
1737
|
|||
|
Chant du Cygne; Swan Song
|
1737
|
Ivry Gitlis
|
BAB
: 3
Biola
Tertua Di Indonesia
Posted on
·
6/11/2011by
·
Gistink.Info in

Umurnya sudah hampir 300 tahun,andaikata ini manusia pasti udah Jompo banget dan udah merayap kayak ular karena gak bisa jalan maklum udah uzur.untungnya ini adalah usia tertua dari sebuah Biola yang ternyata ada di indonesia.
Biola tertua dengan usia hampir 300 Tahun ternyata ada di Negara Indonesia.
Seperti di Lansir dari Laman Liputan6 Oleh Gistink.Info
Biola buatan Antonio Stradivari merupakan salah satu biola terbaik di dunia. Banyak pemain biola professional memainkan alat musik tersebut. Ciri biola Stradivarius terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno (tahun). Selain sempurna dalam bentuk dan warnanya, biola Stradivarius dikenal karena kejernihan suara yang dihasilkan, dan kepekaan terhadap sentuhan musisi yang memainkannya.
Secara umum diakui bahwa instrument karya Stradivari yang terbaik diproduksi antara tahun 1698-1725 (memuncak sekitar 1715), dan yang melebihi kualitas diproduksi antara 1725 dan 1730. Setelah 1730, beberapa instrument ditanda tangani Sub Disciplina Stradivari, dan mungkin dibuat oleh anak-anaknya, Omobomo dan Francesco.
Pak Mudzoffar, pemain biola amatir asal kota Batu salah satu pemilik biola Stradivarius keluaran 1725. Biola yang usianya hampir 300 tahun itu dimilikinya sejak dia mendirikan grup musik melayu pertama kali di kota Batu, yang dinamakan OM Sinar Harapan pada 1954. Jadi sudah hampir 60 tahun Pak Mudzoffar memiliki biola tersebut.
Hingga saat ini, Mudzoffar masih sering memainkan lagu-lagu keroncong dengan biola Stradivariusnya di berbagai grup orkes keroncong di Batu. Walaupun biola Stradivarius milik pak Mudzoffar sering dimainkan, biola ini kondisinya masih tetap bagus dan suaranya pun masih enak didengar.
Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Diantara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun. Yang lainnya ada yang hancur dalam kebakaran atau kecelakaan lain, hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia ke-dua. (Pengirim: Zaenal Arifin)
-
Bandingkan mana yang Tertua
Biola Tertua se-Indonesia Dipamerkan di Bandung
Kamis, 28 Agustus 2008 19:19 wib

Foto: Ilst
BANDUNG - Biola tertua di
Indonesia dipamerkan di Gedung Indonesia Mengugat (GIM) Jalan Perintis
Kemerdekaan Nomor 5 Bandung mulai hari ini. Biola berwarna kecoklatan ini
bernama Biola Antonius Stradivarius dan di produksi akhir tahun 1800-an.
-
Artikel di Surabaya Post
Warga
Batu Klaim Punya Biola Tertua di Indonesia
Buatan Antonio
Stradivari. Dulu ia beli Rp7.000, sekarang harganya diduga miliaran.
Jum'at, 8 Juli 2011,
19:39 WIB
Elin Yunita Kristanti

Biola Antonio Stradivari (Surabaya Post)
SURABAYA
POST- Lagu “Setangkai
Bunga Anggrek” melantun syahdu lewat gesekan biola Mudzoffar. Pria berusia 75
tahun warga Jl Batok Gg I No 5 Kelurahan Sisir Kota Batu ini cukup mahir
memainkan alat musik gesek tersebut. Sesekali Mudzoffar harus menghentikan
permainannya untuk membetulkan sekrup di ujung biola yang nyaris lepas. Maklum,
biola itu disebutkannya sudah berusia ratusan tahun.
“Saya menduga biola ini adalah salah satu biola tertua di Indonesia, buatan Antonio Stradivari yang diproduksi tahun 1725,” kata Mudzoffar.
Nama pembuat dan tahun produksi itu sendiri terdapat di dalam bodi biola. Hal inilah yang membuat Mudzoffar yakin bila biola miliknya ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia.
Penelusuran Surabaya Post terhadap sejumlah artikel tentang biola Antonio Stradivari menyebutkan, biola buatan Antonio Stradivari adalah salah satu biola terbaik di dunia. Ciri-cirinya, terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno (kemudian diikuti tahun pembuatan).
Instrument karya Stradivari yang terbaik diproduksi antara tahun 1698-1725 (puncaknya pada tahun 1715). Setelah 1730, beberapa instrument ditanda tangani sub disciplina Stradivari, dan dibuat oleh kedua anak Stradivari yang bernama Omobomo dan Francesco.
Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Di antara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun. Lainnya ada yang hancur dalam kebakaran atau kecelakaan, hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia ke-2.
Mudzoffar sendiri mengaku mendapatkan biola ini di Pasar Rombeng Malang. Dia membelinya dari seorang lelaki keturunan Tionghoa bernama Om Sui pada tahun 1957. Waktu itu ia mendapatkan biola tersebut tanpa senar.
Kemudian, dibelikannya senar biola berharga murahan untuk dipergunakan bermain musik di Orkes Melayu Sinar Harapan yang didirikannya pada 1954. Hingga saat ini, kualitas bunyi yang dihasilkan cukup jernih.
“Saat itu saya masih belum tahu kalau biola ini buatan Stradivari. Hingga suatu ketika saya membaca di sebuah media cetak tentang berita seorang pemain biola yang memainkan biola berharga miliaran rupiah, usia biolanya dibuat sekitar 1723,” urainya.
Saat itulah terbersit di hati Mudzoffar untuk mengetahui usia biola miliknya. Dan, diketemukan tulisan di balik body biola yang menyatakan dibuat tahun 1725.
Biola Stradivari adalah salah satu biola terbaik di dunia yang pernah diciptakan dan mempunyai harga paling tinggi. Hingga saat ini masih dimainkan oleh pemain biola professional. Setiap biola buatan Stradivari yang masih ada, mempunyai julukannya masing-masing
Pada 21 Juni 2011, Biola Stradivari 1721 yang dikenal sebagai “Lady Blunt” dibeli oleh seorang penawar anonim seharga £ 9.808.000 (USD 15.932.115). Uang hasil lelang itu digunakan membantu para korban gempa bumi Jepang.
Sementara pada 14 Oktober 2010, biola Stradivari th 1697 yang dikenal sebagai “Molitor” dijual online oleh Tarisio Lelang seharga USD 3.600.000 saat konser pemain biola terkenal Anne Akiko Meyers . Sebelumnya, pada 16 Mei 2006, Balai Lelang Christie melelang biola Stradivari th 1707 dikenal sebagai “Hammer” seharga USD 3.544.000.
Meski biola milik Mudzoffar tergolong langka, belum pernah ada yang menawar untuk membelinya. “Kalau ada yang beli ya tidak apa-apa, asal cocok harganya,” pungkasnya.*
“Saya menduga biola ini adalah salah satu biola tertua di Indonesia, buatan Antonio Stradivari yang diproduksi tahun 1725,” kata Mudzoffar.
Nama pembuat dan tahun produksi itu sendiri terdapat di dalam bodi biola. Hal inilah yang membuat Mudzoffar yakin bila biola miliknya ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia.
Penelusuran Surabaya Post terhadap sejumlah artikel tentang biola Antonio Stradivari menyebutkan, biola buatan Antonio Stradivari adalah salah satu biola terbaik di dunia. Ciri-cirinya, terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno (kemudian diikuti tahun pembuatan).
Instrument karya Stradivari yang terbaik diproduksi antara tahun 1698-1725 (puncaknya pada tahun 1715). Setelah 1730, beberapa instrument ditanda tangani sub disciplina Stradivari, dan dibuat oleh kedua anak Stradivari yang bernama Omobomo dan Francesco.
Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Di antara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun. Lainnya ada yang hancur dalam kebakaran atau kecelakaan, hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia ke-2.
Mudzoffar sendiri mengaku mendapatkan biola ini di Pasar Rombeng Malang. Dia membelinya dari seorang lelaki keturunan Tionghoa bernama Om Sui pada tahun 1957. Waktu itu ia mendapatkan biola tersebut tanpa senar.
Kemudian, dibelikannya senar biola berharga murahan untuk dipergunakan bermain musik di Orkes Melayu Sinar Harapan yang didirikannya pada 1954. Hingga saat ini, kualitas bunyi yang dihasilkan cukup jernih.
“Saat itu saya masih belum tahu kalau biola ini buatan Stradivari. Hingga suatu ketika saya membaca di sebuah media cetak tentang berita seorang pemain biola yang memainkan biola berharga miliaran rupiah, usia biolanya dibuat sekitar 1723,” urainya.
Saat itulah terbersit di hati Mudzoffar untuk mengetahui usia biola miliknya. Dan, diketemukan tulisan di balik body biola yang menyatakan dibuat tahun 1725.
Biola Stradivari adalah salah satu biola terbaik di dunia yang pernah diciptakan dan mempunyai harga paling tinggi. Hingga saat ini masih dimainkan oleh pemain biola professional. Setiap biola buatan Stradivari yang masih ada, mempunyai julukannya masing-masing
Pada 21 Juni 2011, Biola Stradivari 1721 yang dikenal sebagai “Lady Blunt” dibeli oleh seorang penawar anonim seharga £ 9.808.000 (USD 15.932.115). Uang hasil lelang itu digunakan membantu para korban gempa bumi Jepang.
Sementara pada 14 Oktober 2010, biola Stradivari th 1697 yang dikenal sebagai “Molitor” dijual online oleh Tarisio Lelang seharga USD 3.600.000 saat konser pemain biola terkenal Anne Akiko Meyers . Sebelumnya, pada 16 Mei 2006, Balai Lelang Christie melelang biola Stradivari th 1707 dikenal sebagai “Hammer” seharga USD 3.544.000.
Meski biola milik Mudzoffar tergolong langka, belum pernah ada yang menawar untuk membelinya. “Kalau ada yang beli ya tidak apa-apa, asal cocok harganya,” pungkasnya.*
-
Artikel di Radar Malang
-
Artikel di Warta Kota
Minggu, 10 Juli 2011
Biola Antonio Stradivari Ada di Malang

allviolinacademy.com
Dibaca : 252
kali
Komentar:
0
Malang, Warta Kota
Salah
satu biola merek Antonio Stradivari buatan tahun 1725 berada di Malang, Jawa
Timur. Biola itu diyakini sebagai salah satu biola tertua di Indonesia.
Biola
itu dimiliki oleh Mudzoffar (75), warga Jalan Batok Gg I, Kelurahan Sisir, Kota
Batu, yang menemukan biola itu di sebuah pasar rombeng, Kota Malang pada tahun
1957. Dia lalu membelinya dari penjualnya, seorang lelaki keturunan Tiong
Hoa bernama Om Sui.
Waktu
itu, Mudzoffar mendapati biola itu tanpa senar. Biola tersebut dibelinya dengan
harga Rp 7.000. Mudzoffar yang sejak remaja memang hobi bermain musik tak tahu
biola yang dibelinya sangat berharga.
"Saat
saya membeli biola saya tidak tahu kalau biola itu adalah biola jenis
bagus," katanya saat ditemui Kompas.com, di rumahnya, Sabtu (9/7).
Belakangan, setelah membaca sebuah artikel di internet, Mudzoffar mengetahui
bahwa biola yang dimilikinya itu berharga.
"Saya
cek ternyata memang ada tahun pembuatannya di bodi biola ini," katanya,
sembari memegang biola tersebut.
Biola
tersebut ternyata buatan Antonio Stradivari yang diproduksi tahun 1725. Nama
pembuat dan tahun produksi itu sendiri terdapat di dalam bodi biola. "Hal
itulah yang membuat saya yakin kalau biola ini adalah salah satu yang tertua di
Indonesia dan bahkan di dunia," katanya.
Sementara
itu, dari penelusuran Mudzoffar sendiri, baik buku dan sejumlah artikel tentang
biola Antonio Stradivari, biola buatan Antonio Stradivari itu memang salah satu
biola terbaik di dunia. Ciri-cirinya, terdapat pada label Antonius Stradivarius
Cremonensis Faciebat Anno, lalu diikuti tahun pembuatannya. Adapun instrumen
karya Stradivari yang terbaik, diproduksi antara tahun 1698-1725, puncaknya
pada tahun 1715. Setelah 1730, beberapa instrumen ditandatangani sub disciplina
Stradivari, dan dibuat oleh kedua anak Stradivari yang bernama Omobomo dan
Francesco.
Stradivari
selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah
biola. Di antara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya
adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun.
"Sementara,
yang lainnya ada yang sudah hancur dalam kebakaran atau kecelakaan lain, ada
yang hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden
dalam Perang Dunia kedua," katanya menjelaskan.
Biola
Stradivari itu adalah salah satu biola terbaik di dunia yang pernah diciptakan
dan mempunyai harga paling tinggi. Hingga saat ini pemain biola professional
masih memainkan biola-biola Stradivari. Setiap biola buatan Stradivari yang
masih ada, mempunyai julukannya masing-masing. Pada 21 Juni 2011 lalu, biola
Stradivari buatan tahun 1721 yang dikenal sebagai "Lady Blunt"
dibeli oleh seorang penawar anonim seharga 9.808.000 poundsterling. Uang hasil
lelang itu digunakan membantu para korban gempa bumi Jepang.
Sementara
pada 14 Oktober 2010, biola Stradivari buatan tahun 1697, yang dikenal sebagai
"Molitor" dijual online oleh Tarisio Lelang seharga 3.600.000 dollar
AS, saat konser pemain biola terkenal Anne Akiko Meyers. Sebelumnya, pada 16
Mei 2006, Balai Lelang Christie melelang Stradivari Hammer 1707 seharga
3.544.000 dollar AS.
Sampai
saat ini, meski biola milik Mudzoffar itu tergolong langka, masih belum pernah
ada yang menawar untuk dibeli. "Kalau ada yang mau beli ya tidak apa-apa,
asal cocok harganya," katanya. Saat ini, biola tersebut sudah ada
senarnya, dibelikan oleh Mudzoffar, agar bisa digunakan untuk bermain musik
dirumahnya.
"Saat
ini sudah saya belikan senar. Ini sering digunakan di Orkes Melayu Sinar
Harapan, yang didirikannya pada 1954. Hingga saat ini, kualitas bunyi yang
dihasilkan memang cukup jernih," katanya (Kompas.com)
-
Artikel di Banjarmasin Post
Tak Sadar Miliki Biola Tertua di
Indonesia
Banjarmasinpost.co.id - Minggu, 10 Juli
2011 | 09:47 Wita | Dibaca 345 kali | Komentar (0)
Mudzoffar (75), warga Jl
Batok Gg I, No 5 Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur yang memiliki biola
bermerk Antonio Stradivari, yang dibuat pada tahun 1725.
BANJARMASINPOST.CO.ID, MALANG - Biola merek Antonio Stradivari
buatan tahun 1725 yang ditemukan seseorang di Malang, Jawa Timur, diyakini
sebagai salah satu biola tertua di Indonesia. Ditemukan tepatnya di sebuah
pasar rombeng, Kota Malang. Penemunya adalah Mudzoffar (75), warga Jl. Batok Gg
I, No 5 Kelurahan Sisir, Kota Batu. Mudzoffar, yang membelinya pada tahun 1957.
Ia membelinya pada seorang lelaki keturunan Tiong Hoa, bernama Om Sui. Waktu itu, Mudzoffar mendapatkan biola itu tanpa senar. Biola tersebut dibelinya dengan harga Rp 7.000. Mudzoffar yang sejak remaja memang hobi bermain musik tak pernah tahu biola yang dibelinya sangat berharga.
"Namun, waktu itu, saat saya membeli biola, saya tidak tahu kalau biola itu adalah biola jenis bagus," akunya, ditemui di rumahnya, Sabtu (9/7/2011). Baru belakangan Mudzoffar mengetahui bahwa biola yang dimilikinya itu alat musik tertua setelah membaca sebuah artikel di internet. "Saat itu saya baru tahu. Lalu saya cek ternyata memang ada tahun pembuatannya di bodi biola ini," katanya, sembari memegang biola tersebut.
Biola tersebut adalah buatan Antonio Stradivari yang diproduksi tahun 1725. Nama pembuat dan tahun produksi itu sendiri terdapat di dalam bodi biola. "Hal itulah yang membuat saya yakin kalau biola ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia dan bahkan di dunia," katanya.
Sementara itu, dari penelusuran Mudzoffar sendiri, baik buku dan sejumlah artikel tentang biola Antonio Stradivari, biola buatan Antonio Stradivari itu memang salah satu biola terbaik di dunia. Ciri-cirinya, terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno, lalu diikuti tahun pembuatannya. Adapun instrumen karya Stradivari yang terbaik, diproduksi antara tahun 1698-1725, puncaknya pada tahun 1715. Setelah 1730, beberapa instrumen ditandatangani sub disciplina Stradivari, dan dibuat oleh kedua anak Stradivari yang bernama Omobomo dan Francesco.
Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Di antara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun. "Sementara, yang lainnya ada yang sudah hancur dalam kebakaran atau kecelakaan lain, ada yang hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia kedua," jelasnya.
Biola Stradivari itu adalah salah satu biola terbaik di dunia yang pernah diciptakan dan mempunyai harga paling tinggi. Hingga saat ini masih dimainkan oleh pemain biola professional. Setiap biola buatan Stradivari yang masih ada, mempunyai julukannya masing-masing. Pada 21 Juni 2011 lalu, Biola Stradivari 1721 yang dikenal sebagai "Lady Blunt" dibeli oleh seorang penawar anonim seharga 9.808.000 poundsterling. Uang hasil lelang itu digunakan membantu para korban gempa bumi Jepang.
Sementara pada 14 Oktober 2010, biola Stradivari 1697 yang dikenal sebagai "Molitor" dijual online oleh Tarisio Lelang seharga 3.600.000 dollar AS, saat konser pemain biola terkenal Anne Akiko Meyers. Sebelumnya, pada 16 Mei 2006, Balai Lelang Christie melelang biola Stradivari 1707 Hammer seharga 3.544.000 dollar AS.
Sampai saat ini, meski biola milik Mudzoffar itu tergolong langka, masih belum pernah ada yang menawar untuk dibeli. "Kalau ada yang beli ya tidak apa-apa, asal cocok harganya," katanya. Saat ini, biola tersebut sudah ada senarnya, dibelikan oleh Mudzoffar, agar bisa digunakan untuk bermain musik dirumahnya.
"Saat ini sudah saya belikan senar. Ini sering digunakan di Orkes Melayu Sinar Harapan, yang didirikannya pada 1954. Hingga saat ini, kualitas bunyi yang dihasilkan memang cukup jernih," akunya.
Ia membelinya pada seorang lelaki keturunan Tiong Hoa, bernama Om Sui. Waktu itu, Mudzoffar mendapatkan biola itu tanpa senar. Biola tersebut dibelinya dengan harga Rp 7.000. Mudzoffar yang sejak remaja memang hobi bermain musik tak pernah tahu biola yang dibelinya sangat berharga.
"Namun, waktu itu, saat saya membeli biola, saya tidak tahu kalau biola itu adalah biola jenis bagus," akunya, ditemui di rumahnya, Sabtu (9/7/2011). Baru belakangan Mudzoffar mengetahui bahwa biola yang dimilikinya itu alat musik tertua setelah membaca sebuah artikel di internet. "Saat itu saya baru tahu. Lalu saya cek ternyata memang ada tahun pembuatannya di bodi biola ini," katanya, sembari memegang biola tersebut.
Biola tersebut adalah buatan Antonio Stradivari yang diproduksi tahun 1725. Nama pembuat dan tahun produksi itu sendiri terdapat di dalam bodi biola. "Hal itulah yang membuat saya yakin kalau biola ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia dan bahkan di dunia," katanya.
Sementara itu, dari penelusuran Mudzoffar sendiri, baik buku dan sejumlah artikel tentang biola Antonio Stradivari, biola buatan Antonio Stradivari itu memang salah satu biola terbaik di dunia. Ciri-cirinya, terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno, lalu diikuti tahun pembuatannya. Adapun instrumen karya Stradivari yang terbaik, diproduksi antara tahun 1698-1725, puncaknya pada tahun 1715. Setelah 1730, beberapa instrumen ditandatangani sub disciplina Stradivari, dan dibuat oleh kedua anak Stradivari yang bernama Omobomo dan Francesco.
Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Di antara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun. "Sementara, yang lainnya ada yang sudah hancur dalam kebakaran atau kecelakaan lain, ada yang hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia kedua," jelasnya.
Biola Stradivari itu adalah salah satu biola terbaik di dunia yang pernah diciptakan dan mempunyai harga paling tinggi. Hingga saat ini masih dimainkan oleh pemain biola professional. Setiap biola buatan Stradivari yang masih ada, mempunyai julukannya masing-masing. Pada 21 Juni 2011 lalu, Biola Stradivari 1721 yang dikenal sebagai "Lady Blunt" dibeli oleh seorang penawar anonim seharga 9.808.000 poundsterling. Uang hasil lelang itu digunakan membantu para korban gempa bumi Jepang.
Sementara pada 14 Oktober 2010, biola Stradivari 1697 yang dikenal sebagai "Molitor" dijual online oleh Tarisio Lelang seharga 3.600.000 dollar AS, saat konser pemain biola terkenal Anne Akiko Meyers. Sebelumnya, pada 16 Mei 2006, Balai Lelang Christie melelang biola Stradivari 1707 Hammer seharga 3.544.000 dollar AS.
Sampai saat ini, meski biola milik Mudzoffar itu tergolong langka, masih belum pernah ada yang menawar untuk dibeli. "Kalau ada yang beli ya tidak apa-apa, asal cocok harganya," katanya. Saat ini, biola tersebut sudah ada senarnya, dibelikan oleh Mudzoffar, agar bisa digunakan untuk bermain musik dirumahnya.
"Saat ini sudah saya belikan senar. Ini sering digunakan di Orkes Melayu Sinar Harapan, yang didirikannya pada 1954. Hingga saat ini, kualitas bunyi yang dihasilkan memang cukup jernih," akunya.
BAB
: 4
Biola
Leonardo Da Vinci
Lihat
kembali dalam daftar Biola Strad
|
Le
Sarasate
|
1724
|
Musée de la
Musique, Paris
|
bequeathed
to the Conservatory by Pablo de Sarasate
|
|
Brancaccio
|
1725
|
Destroyed
in an allied air raid on Berlin.
|
owned by
Carl Flesch, until 1928 where it was sold to Franz von Mendelssohn, banker
and amateur violinist
|
|
Chaconne
|
1725
|
Österreichische
Nationalbank
|
on loan to
Rainer Küchel
|
|
Leonardo
da Vinci
|
1725
|
Da
Vinci family
|
?
|
|
Wilhelmj
|
1725
|
Nippon
Music Foundation
|
on loan to
Baiba Skride; one of several Stradivari violins with the sobriquet “Wilhelmj”
|
|
Greville;
Kreisler; Adams
|
1726
|
Fritz
Kreisler
|
Ket:
Dalam table catatan menunjukkan bahwa biola Strad 1725 yang dijuluki dengan Leonardo Da
Vinci Violin belum ditemukan. Jadi diduga biola Mudzoffar adalah Biola Leonardo
Da Vinci.
-
Nilai
Biola Da Vinci
Besar dan
kuat dalam hal ini adalah 300-tahun
Leonardo da Vinci biola Stradivarius, dihargai setinggi $ 5.000.000
VIOLIN DUEL A DRAW FOR ANTIQUE STRADIVARIUS, NEW INSTRUMENT
World-class violinist Dalibor Karvay, behind the screen, played the Leonardo da Vinci Stradivarius
and a violin made by biochemist Joseph Nagyvary,
far right, in a comparison concert Sept. 15 in College
Station, Texas. A crew from MiraMedia, a Germany documentary company, taped the
event for an upcoming film about Antonio Stradivari. (Texas Cooperative
Extension photo by Jim Lyle)
“Some
like blondes; some like brunettes. Some like them slim; some like them hefty,”
Dr. Joseph Nagyvary contended.
Hefty in this case was the 300-year-old
Leonardo da Vinci Stradivarius violin, valued as high as $5 million, pitted against a slimly played violin that Nagyvary
crafted in just six weeks and completed in August 2003.
In all
scores from the audience – whether among those who considered themselves
trained musicians or those who are average concert goers – the new Nagyvary
violin ranked slightly higher than the ancient Stradivarius.
“There
are shock waves going around in the violin business,” Nagyvary said. “The
expectation was a knock-out victory by the Stradivarius.”
Nagyvary,
a recently retired Texas A&M University biochemist who spent his career
studying Stradivarius violins to the molecular level, willfully accepted the
challenge to compare his with the famous violin. MiraMedia, a German company
doing a documentary on Antonio Stradivarius, organized the comparison concert,
at which a turn-away crowd of 600 judged the two violins.
Both
violins were played in each of four selections of music, the order of playing
was selected randomly on the spot, and separate scores were given for tone
quality (beauty) and projection (power) on a 10-point scale, Nagyvary
explained. World-class violinist Dalibor Karvay played the violins behind a
screen so that audience participants could not see the instrument.
For
those four selections, trained musicians in the audience gave the Stradivarius
an average of 8.03 in tone quality and 8.0 for power while the Nagyvary violin
got and average of 8.1 for tone quality and 8.33 for power. Other audience
participants’ votes put the Stradivarius at an average of 7.83 for quality and
7.8 for power while the Nagyvary got 8.03 for quality and 8.23 for power.
“I
consider the results a draw for both the untrained and trained audience,”
Nagyvary said. “This was the first public comparison of a great Stradivari with
a new violin in front of a large audience.
In
addition to the four blind tests, Karvay played Prokofiev’s Sonata in D on one
violin and Waxman’s Carmen Fantasy on the other – both in full view of the
audience who got to choose which piece was played by the Stradivarius.
Nagyvary
said 57 people correctly picked the Stradivarius on the Prokofiev piece, 290
guessed wrong and 129 were undecided.
“I
personally don’t think such a test with different music is fair, but it’s worth
mentioning,” Nagyvary said.
Of the
600 audience ballots, 463 qualified for tabulation (160 trained musicians and
303 average concert-goers), said Nagyvary, who supplied MiraMedia with a
duplicate set on the night of the concert, prior to tabulation.
The
comparison concert also marked Nagyvary’s retirement from Texas A&M
University. Selections were also played later on a 10-year-old Nagyvary violin
by world-class violinist Regina Buonavenura from Manila, The Philippines.
The
researcher plans to continue to make his Nagyvarius violins.
“Antonio
Stradivari was at his best in his 70s and 80s,” Hungarian-born Nagyvary said.
“I’m 69, so perhaps I’m entering the same stage of life.”
Nagyvary
began in the 1980s using his knowledge of biochemistry to study the intricacies
of the famous violins made in the 18th century by Antonio Stradivari. More
information is available at http://www.nagyvaryviolins.com
Dr.
Greg Reinhart, Texas A&M biochemistry and biophysics department head, said
Nagyvary’s research is “more likely to be held up as an example for 400 years
than most of the experiments the rest of us do.”
BAB
: 5
Biola
Peninggalan
KH
Ahmad Dahlan
-
Buku
Novel “Sang Pencerah”
-
Sang
Pencerah :
“
Aku dapat biola ini dalam perjalanan pulang dari Makkah tahun 1888 dan belajar
seadanya di kapal dari orang yang menjual biola ini,” kata KH Ahmad Dahlan
kepada Dr. Wahidin Sudirohusodo ( buku novel “Sang Pencerah” hal. 328)
“
Ini namanya biola,Pak. Aku dapat di kapal bersama teman-teman dari Bugis,” jawab
KH Ahmad Dahlan kepada Bapaknya. (buku
novel “Sang Pencerah” hal 146)
-
“
Biola itu mungkin dipakai pendiri organisasi Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Di
badan samping biola ada ukiran “HD”. Kami perkirakan itu singkatan dari Haji
Dahlan atau Haji Darwisy ( sebutan Ahmad Dahlan ).” Kata Zaenal.
“
Kami masih menduganya, sebab penjual biola ini berasal dari Jogja yang telah
menjualnya kepada Om Sui (pedagang biola) di Pasar Rombeng Malang pada tahun
1957. Bisa jadi milik KH Ahmad Dahlan.” Ujar Mudzoffar
“
Biola dijual buat ongkos pulang ke Jogja.” Kata Mudzoffar menirukan Om Sui.
-
Surya
-
Foto
ukiran bertulis “HD”




Ukiran “ HD “ pada sisi kiri body
biola Strad 1725
-
Sedikit
Persamaan :
KH Ahmad Dahlan dan
Mudzoffar
|
KH Ahmad
Dahlan
|
Mudzoffar
|
|
|
![]() |
|
Bisa memainkan biola
|
Bisa memainkan biola
|
|
|
![]() |
|
Pendiri Muhammadiyah
|
Pemuda Muhammadiyah
|
BAB
: 6
Accordion
-
Artikel
Surat Kabar Memo
Mudhoffar
Musisi Tempo Dulu yang Serba Bisa, Dibutuhkan Karena Kuasai Akordion
Memo —
Gesekan biola laki-laki ini begitu mendayu, mengalirkan suasana melankoli yang
begitu kuat. Lekukan lagu, ketukan not begitu tegas ditangan tangan laki-laki
yang sudah mulai keriput ini.
Tak kalah
merdu, ditangan laki-laki ini pula, suara akordion terasa lebih syahdu, seolah
menonton sebuah orkes diatas sebuah panggung.
Mudzoffar
(75), warga Jl Batok Gg I No 5, Kelurahan Sisir, Kota Batu diusianya yang sudah
udzur tetap bergelut dengan berbagai alat musik. Laki-laki yang pernah
mendirikan grup musik melayu pertama “Om Sinar Harapan“ di Kota Batu ini hingga
kini belum bisa lepas dari bermain musik.
Berbagai
jenis alat musik dikuasai, mulai dari biola, bass, guitar, hingga akordion. Tak
heran, meski usianya sudah udzur masih banyak grup orkes yang mencarinya dan
mengajaknya bermain.
“Yang
sulit itu bermain akordion, tidak semua orang bisa, saya masih dibutuhkan dalam
grup karena bisa bermain akordion,” tutur Mudzoffar. Alat musik yang salah satu
sisinya bisa ditarik memanjang ini memang menghasilkan suara yang merdu, selain
itu dibutuhkan sebuah keahlian khusus lantaran banyak sekali kenop yang ada.
Bahkan
konon, menurut Mudzoffar, di Malang Raya ini, saat ini hanya ada dua orang yang
bisa memainkan alat musik tempo dulu ini. “Sudah banyak yang meninggal dunia,”
ujarnya.
Untuk
memainkannya rumit, karena menggunakan dua tangan yang harus sibuk menekan
tuts-tuts dan harus digoyang-goyangkan. Dagu juga dimainkan untuk merubah-rubah
nada, karena itulah jarang ada yang menguasai alat musik ini.
Mendapatkan
akordion pun bukan sebuah pekerjaan yang mudah, lantaran sudah tidak ada lagi
yang menjual alat musik ini. Mudzoffar baru mendapatkan akordion ini setelah
berbulan-bulan ‘berburu’ dari kota ke kota.
“Saya
dapatkan akordion ini dari seorang berkebangsaan India di Surabaya,” ujarnya.
Kini Mudzoffar mempunyai dua unit akordion yang diduga dibuat pada jaman
kolonial Belanda.
Pengabdian
Mudzoffar pada dunia musik tidak hanya ditunjukkan dengan tetap bergabung pada
dua grup musik di Jl Willys dan di Orkes Sahabat Lama. “Kalau ada acara kita
sering diundang,” ujarnya.
Selain itu
laki-laki yang pernah membesarkan orkes Sekuntum Melati ini juga masih sering
memberi kursus privat biola kepada para pelajar. “Sekali datang biasanya saya
diberi honor Rp 25 ribu, biasanya sebulan murid saya itu datang, setelah itu
tidak datang lagi, kemungkinan dia sudah bisa bermain biola,” ujarnya.
Baginya,
musik adalah kehidupannya, tidak terhitung berapa banyak alat musik yang
dimilikinya, bahkan biola tertua di Indonesia kini ada ditangannya. Mudhoffar
menuturkan tangannya ini baru akan berhenti memetik dawai bila ajal sudah
menjemputnya. (dan)
-
Foto
Accordion

Accordion
merk “Settimio Soprani”. ( M 16/ 132 Made In Italy )

Accordion
merk “Excelsior” (Type MOD. 302 Made In Italy)
-
Foto
Konser

Mudzoffar
sebelah kiri memainkan keyboard

Mudzoffar
memainkan accordion
BAB : 7
BAB : 7
Tentang Murid Mudzoffar
Mudzoffar dikaruniai 5 orang anak, semua
anak-anaknya sejak kecil sudah dapat memainkan alat musik khususnya guitar.
Sangat jarang sekali pada masa itu anak-anak Sekolah Dasar yang bisa bermain
guitar. Dan diantara 5 orang anak Mudzoffar, salah satunya yang paling menonjol
dibidang musik atau dapat menguasai
berbagai alat musik yakni guitar, bass, keyboard, biola, accordion. Juga
menguasai ilmu musik dan berpengalaman dalam berbagai grup musik seperti grup
Dangdut, Keroncong, Band, Qosidah. Saat ini ia sebagai pengajar musik privat.
Mungkin sebagian dari anda ada yang bisa
menebaknya. Yah…terpaksa saya katakan!! Dengan segala kerendahan hati, anak
Mudzoffar tersebut adalah saya sendiri, penyusun buku ini. Disamping saya
sebagai anak bungsu, saya juga sebagai murid beliau ( Bapak ). Menurut saya
Bapak adalah pemain musik yang baik juga pengajar yang baik. Dengan sedikit
bicara namun apa yang diajarkan, dalam artian ilmu-ilmu musiknya mudah dicerna
oleh pikiran dan mudah dipraktekkan dalam berbagai alat musik.
Saya belajar guitar sejak duduk di bangku Sekolah
Dasar. Yang sering mengajari adalah kakak-kakak saya. Bapak jarang sekali
mengajari guitar, mungkin Bapak sibuk cari uang untuk menafkahi istri dan
anak-anaknya. Suatu saat Bapak punya Piano (barang dagangan), kesempatan saya
belajar piano ke Bapak. Lagu yang diajarkan adalah lagu-lagu yang mudah seperti
Gundul-Gundul Pacul (lagu Jawa) dan Ibu Kita Kartini. Tapi sebelumnya diajari
nada-nada dulu agar mudah memainkan lagu.
Pada saat sekolah di SMP, sedikit-sedikit saya
mempelajari biola dan accordion. Saya cepat bisa dan paham cara bermain biola
dan accordion dikarenakan teori-teori musik Bapak yang mudah dan praktis. Dan
tak jarang saya diajak ikut dalam latihan grup Keroncong, sehingga saya bisa
ikut konser satu panggung dengan Bapak.
-
Foto
Konser

Saya
pegang biola

Saya
Pegang Guitar dalam grup Band

Saya
pegang Bass dalam grup Orkes Dangdut

Saya
Pegang Keyboard dalam grup Band

Saya
mengiringi grup Religi dengan keyboard
-
Video
di Situs Internet
Untuk
melihat permainan lagu-lagu saya dengan menggunakan biola Stradivarius 1725 “
Leonardo Da Vinci Violin “, anda dapat mengunjungi di www.youtube.com
§ Biola
Tertua, Indonesia Raya
WR
Supratman menciptakan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dengan menggunakan biola, maka saya akan memainkan
lagu Indonesia Raya dengan menggunakan biola Tertua di Indonesia yang juga
peninggalan KH Ahmad Dahlan.
§ Biola
Tertua, Hari Merdeka
§ Biola
Tertua, Bangun Pemudi Pemuda
Saya
akan memberikan semangat bagi para pemuda Indonesia dengan melantunkan lagu
Bangun Pemudi Pemuda dengan menggunakan biola.
§ Biola
Tertua, Maju Tak Gentar
§ Biola
Tertua, Garuda Pancasila
§ Biola
Tertua di Indonesia, Fratelly D’ Italia
Saya
ucapkan terima kasih kepada Negara Italia yang telah membuat biola yang sangat
terbaik di dunia ini. sebagai penghormatan saya lantunkan sebuah lagu
Kebangsaan Negara Italia " Fratelli D' Italia”.
§ Biola
Tertua di Indonesia, The Star Spangled
Banner
-
Musisi
Yunior
Mudzoffar
mempunyai 13 cucu, dan di antaranya ada yang dapat memainkan alat music. Salah
satu contoh adalah Sultan Azmi Bandarsyah, anak dari Saya sendiri. Saat ini ia
masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak ( TK Kecil ) TK Dharma Bakti, Desa Tambar-Jogoroto-Jombang.
Untuk
melihat permainan Sultan, silahkan berkunjung di www.youtube.com
-
Balita
Sehat, Kaji Sultan
Bermain
keyboard dengan lagu Religi ( Sholawat Nabi )
-
Balita
sehat main keyboard.a
Bermain
keyboard dengan lagu anak-anak, Kodok Ngorek
-
Balita
sehat main keyboard.b
Bermain
keyboard dengan lagu Jawa, Gundul-Gundul Pacul








Tidak ada komentar:
Posting Komentar