Sabtu, 08 Februari 2014

Biola Tertua



BAB : 1
Kisah Mudzoffar

Loading...

Tahun 1944 ( zaman Jepang ) Mudzoffar dalam usia 7 tahun, sekolah di Madrasah Batu.Konon ceritanya sering memetik buah jarak untuk disetorkan kepada Pemerintah Jepang. Lagu Kimigayo setiap pagi dilantunkan dalam upacara di sekolahan dengan menghadap ke timur laut ( posisi negara Jepang dari Indonesia ). Menghadapi kemerdekaan, beliau berbaris sambil membawa bendera jepang di tangan kirinya, dan tangan kanannya membawa bendera Merah Putih. Pada Agustus 1945 naik kelas 2. Dan tahun 1947 masuk SR ( Sekolah Rakyat ) dan mengulangi kelas 1 lagi. Pada saat itu kekuasaan Jepang diserahkan ke Belanda. Pada tahun 1952-1953 mendapat ijazah SR. Tahun 1953 beliau masuk SMP Islam angkatan pertama. Dan di sekolah tersebut diajari gitar oleh temannya yang berasal dari Surabaya, Mulyono ( saat ini Dosen UMM Malang ). Saat itu di Kota Batu belum ada orang yang punya atau bisa memainkan guitar, Mudzoffar sudah sering membawa guitar kemana – mana walaupun itu adalah guitar pinjaman dari Mulyono. Beliau menggunakan kesempatan itu untuk belajar ke pemilik guitar tersebut. Tahun 1954 mendirikan grup musik melayu pertama kali di Kota Batu yang dinamakan OM. Sinar Harapan.
Mudzoffar juga pernah diajari oleh salah satu personil OM Sinar Kumala, Surabaya (Orkes terkenal di Jawa Timur saat itu). Ceritanya pada saat baru-barunya lagu Keagungan Tuhan, Malik Bedhes menginap di Batu hanya dengan beber kloso ( gelar tikar ), jam 19.00 sampai jam 23.00 Mudzoffar diajarinya lagu Keagunga Tuhan dengan Accordion. Malik Bedhes adalah Pencipta lagu Keagungan Tuhan juga Pemain Accordion OM Sinar Kumala, Sby.
Untuk melihat permainan biola Mudzoffar dengan lagu Kimigayo (National Anthem of Japan), silahkan mengunjungi di situs : http://www.youtube.com/watch?v=WLktO_zwqt0
-         Biografi
Nama                                        : Mudzoffar
Tempat/ TglLahir                      : Batu, 10 November 1937
Agama                                      : Islam
Pekerjaan                                  : Wiraswasta/ Penjahit
Orang Tua                                : Abdul Mukhid dan Satumi
Istri                                           : Muzayanah
Anak                                         :
1.      Lilik Munawaroh
2.      Khusnur Rofik
3.      Ali Mustofa
4.      Khilmi Andriyani
5.      Zaenal Arifin
Jumlah Cucu                             : 13
Riwayat Pendidikan     :
1.      Madrasah di Batu                                     : tahun 1944
2.      SR ( Sekolah Rakyat )                              : tahun 1947 – 1953
3.      SMP Katolik                                             : selama 2 bulan
4.      SMI/ SMP Islam ( Angkatan Pertama )    : tahun 1953
Karir                                         :
-            Pendiri Grup Musik Pertama  di Kota Batu “ OM Sinar Harapan “ tahun 1954
-            Personil Marching Band Pertama Kota Batu “ Pemuda Muhammadiyah “  juara I dalam festifal Marching Band Pemuda Pertama di Surabaya Tahun 1963. Berita dimuat dalam Surat Kabar    “ Merdeka “ pada saat itu.
-            Marching Band “ Pemuda Muhammadiyah” Batu mendapat undangan dari Presiden Pertama Ir. Soekarno dalam Konferensi Islam Asia Afrika pada tahun 1965 di Gedung Merdeka, Bandung.
Organisasi                                 :
§  Partai Muslimin Indonesia
§  Pemuda Muhammadiyah tahun 1963
§  Muhammadiyah sampai saat ini

smpi.JPG
Foto SMI (Sekolah Menengah Islam) angkatan I
sekarang SMP Islam Batu.
Foto Mudzoffar dalam tanda panah
                        
-         Marching Band Pertama di Indonesia
drum_band_2.JPG
Foto Marching Band “Pemuda Muh” Batu, Undangan di Kota Sidoarjo
drumband.JPG
Foto Marching Band “Pemuda Muhammadiyah” Batu, Pemenang Juara I
dalam Festifal Marching Band Se-Indonesia pada tahun 1963
Strat      : Masjid di Perak- Surabaya jam 06.00 WIB
Finish    : Balai Kota Surabaya jam 20.30 WIB
Personil Marching Band “Pemuda Muhammadiyah” Batu :
Mudzoffar, Zubaidi Hasan, Taufik, Mat, Pi’I, Hari, Kohar, Chamim, Ali Fiyono, Seno, Jaka, Syaroni, Trubus, Mat Chan, Malik, Dul Bagi, Arifin, Mat Kur, Pandik, Karimun, Sukur, Suliyan. ( kurang lebih 36 personil pria dan 36 personil wanita).
Berkat Juara I dalam Festifal, akhirnya Bung Karno ( Presiden RI Pertama) mengundang marching Band dalam acara Konferensi Islam Asia Afrika di Gedung Merdeka, Bandung pada tahun 1965. Saat itu Marching Band memberi hadiah untuk Bung Karno, 4 buah Bolera ( gambang ) dimasukkan dalam peti.
Karena banyak permintaan, beberapa personil marching band dikirim ke luar Pulau Jawa untuk melatih marching band di sana, seperti Lombok, Lampung, Banjar. Sedangkan sebagian personil lain melatih diberbagai daerah/ Kabupaten di P. Jawa.
Mudzoffar melatih Marching Band “Pemuda Anshor” di Pujon (desa Wiyu). Materi yang di ajarkan adalah Metode TNI yakni seperti cara berbaris, buka barisan, putar barisan dll.
Mengenai Peralatan dan Perlengkapan Marching Band sebagian ada yang buat sendiri. Seperti Drum buatan pabrik yang dipakai sekarang ini terbuat dari mika, dulu buat sendiri dari kulit. Kalau terkena air hujan bunyinya tidak nyaring. Stik pemukul drum  yang buat salah satu personil Marching Band, Chamim. Gambang, kostum dan topi TNI AL  juga buat sendiri.
Jadi kesimpulannya semua Marching Band Pemuda termasuk juga Pelajar saat ini, pada awalnya berasal dari didikan Marching Band “Pemuda Muhammadiyah” Batu yang diwariskan secara turun temurun sampai sekarang ini. Kita sebagai Pemuda Indonesia sepatutnya berterima kasih kepada Marching Band “Pemuda Muhammadiyah” Batu yang telah memberikan teladan kepada kita semua.
-         Iklan Kota


-         Sejarah Perjalanan Dunia Musik
Tahun
Keterangan
1954
Mudzoffar mendirikan group music melayu dinamakan “ OM. Sinar Harapan “  di Batu-Jatim_Indonesia.Alat music hanya kendang, guitar dan caracas
1956
 Group music tersebut menambah alat music dengan membeli Harmonica dan Harmonium India
1957
Membeli Accordion dan 4 buah Biola
1959
OM. Sinar Harapan bubar alias berhenti
1958-1960
Mudzoffar ikut “OM. Melati” pimpinan Bang Thoyib,di Malang-Jatim sbg pemain biola
1958-1961
Mudzoffar ikut “OM. Sekuntum Melati” sbg pemain biola dan sering pentas di Pasuruan pada masa itu.
1957-1962
Mudzoffar ikut group Keroncong “ Indra Killa” di Pesanggrahan Batu dengan bos oleh P. Raden Reno (mantan Bupati Modo/ Bojonegoro)
1959
Mendirikan “OM. Sinar Bintang” dengan anggota sopir-sopir Stamplat (Terminal) Batu.
1959
Ikut “OM. Kenangan” di Pujon tepatnya di desa Ndelik
1972-1975
Ikut Group Theater Dakwah Islam “LES BUMI” ( Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) di Gondang-Ketangi-Karang Ploso-Malang ( sebelah utara UNMUH Malang)
Saat ini
2011
Setelah LES BUMI bubar, sampai saat ini Mudzoffar ikut Grup Keroncong sbg pemain biola. Dan ikut Orkes Dangdut sbg pemain Accordion.

Pengalaman Jual Beli Biola:
-          Biola Lokal sebanyak 14 buah
-          Biola Eropa sebanyak 3 buah
-          Yang satu Biola Stradivarius 1725 belum dijual sampai sekarang.





-         Foto OM Sinar Harapan

foto 4.jpg
Mudzoffar (Pendiri Orkes) berdiri belakang tengah/ tidak pakai dasi. Tahun
1954 Grup belum memiliki biola.


foto 1.jpg
Mudzoffar duduk paling kanan. Foto tahun 1957 dan sudah memiliki biola.

foto 2.jpg
Konser OM Sinar Harapan pada tahun 1957. Mudzoffar memainkan biola

-         Foto OK Melati

foto 3.jpg
Mudzoffar memainkan biola dalam konser Orkes Keroncong Melati


BAB : 2
Tentang Biola Stradivarius

-         Ciri Biola Stradivarius Pada Label

A label of Antonius Stradivarius Cremonensis?

Have you found a violin with the label "Antonius Stradivarius Cremonensis"? Keep cool. It's almost certainly a fake. In the past some restorers have stuck labels (genuine or forged) inside instruments of various origins and there has been a proper business in labels, apart from the selling of violins. There have also been cases of old-time violin makers who would put the names of other contemporary makers on their own violins.
Nowadays, no violin expert would judge the value of a violin by its label.
Labels such as "Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno 17", followed or not by circles with crosses, initials or other particular signs are made (in series) to be completed before being stuck on the instrument: actually "... Anno 17" shows only the first two numerals of any year of the 18th century. A complete label should read "... Anno 1715" or "... Anno 1707", or at least an year of the 18th century.
There are also cases where you can't even seriously talk of fakes. A label like the following: "Antonius Stradivarius Cremonensis / Faciebat Anno 1721 / Made in Bohemia" is a joke rather a fake, considering that Stradivari never learned English.
However, if you wish to learn more about the quality of the instrument you should take it to a violin maker, who will let you know if it is a good quality instrument. He may not be able to give you details of the period or school, but will be able to tell you if it was made by a good craftsman or on an assembly line. The addresses of violin makers, under the headings of States, can be found in the Reports of magazines for enthusiasts such as "Strad" or "String".
If, after the first check, the violin maker recognizes a particular quality in the instrument, it may be worth while asking for a specialist's appraisal (Expertise) on the part of an expert and connoisseur (usually a restorer or well-known maker) who will issue a certificate of attribution and an estimate of the instrument's value.
The cost of the expert's survey is, as a rule, quite modest if it concerns merely a verbal evaluation. There is, instead, a fixed price and a percentage of the instrument's value when a certificate evaluation is wanted.
If you so wish, you can have a first opinion from the expert violin makers of the Cremona School of Violin Making (Scuola di Liuteria) sending photographs or colour slides taken in the most professional manner, with shots of the whole instrument and of its details. The evaluation may not be infallible (to value an instrument is not the same thing as valuing its photo), but it is possible to get a general indication. It's the best that can be done without having the instrument to hand.
Copyright © 1995 1996 internet graffiti
April 1996


a.     Perbandingan Asli dan Repro/tiruan/copy
1.      Foto Label  Strad 1725 (asli)
Tulisan Label : “ Antonius Stradiuarius Cremonensis
Faciebat Anno 1725 ”.Label.jpg
2.      Foto Label Repro/ Copy
2012-02-18 18[1].49.41.jpg
Tulisan Label : “ Antonius Stradiuarius Cremonensis Faciebat Anno 1721.” Made in Bohemia
Ket : Biola ini menunjukkan tiruan/ copy  dari Bohemia. Tidak asli buatan Stradivari.

a.jpg
Tulisan Label : “ Antonius Stradiuarius Cremo
nensis Faciebat Anno 1694.”
Ket : Kata “Cremonensis” terpotong menjadi 2, di atas dan di bawah menunjukkan biola ini repro atau tiruan.
dsc02926z.jpg
Label Biola Stradivarius Copy buatan Chekoslowakia


b.    Contoh biola Strad Asli
1.      Biola Strad milik Philippe Quint
img040.jpg

2.      Lady Blunt

Inilah Biola Yang Bernilai Rp 84,2 M [Wow]

Lady Blunt Stradivarius bukanlah nama seorang wanita, melainkan sebuah biola yang dijuluki Monalisanya instrumen berdawai. Biola ini laku terjual dengan harga 9.8 juta poundsterling atau Rp 84,2 milliar. Hmmm… apa istimewanya?
Lady Blunt Stradivarius
Lady Blunt Stradivarius

Biola ini milik Nippon Music Foundation, sebuah lembaga Jepang yang didirikan untuk memasyaratkan musik dan punya banyak koleksi instrumen antuk yang bernilai tinggi. Kemudian, yayasan ini akhirnya menjual biola ini dengan melelangnya untuk membantu pemulihan pasca bencana gempa dan tsunami di Jepang beberapa waktu lalu.

Seperti yang dilansir dari Daily Mail, Selasa (21/06) kemarin, karena keunikannya dan dengan tujuan sosial, tentu biola ini banyak peminatnya. Ketika dilelang di rumah lelang Tarisio di London, banyak orang yang tertarik. Akhirnya biola ini jatuh ke tangan orang yang tidak mau disebutkan namanya.

Menurut Kazuko Shiomi, presiden yayasan itu mengatakan biola itu sangat penting bagi koleksinya. “Tetapi mengingat kebutuhan saudara-saudara kami warga Jepang setelah tragedi 11 Maret, kami harus membantu dengan apa pun yang bisa kami berikan,” katanya.

“Sumbangan itu akan disalurkan secepat mungkin kepada yang berhak,” kata Kazuko menambahkan.

Stradivarius, yang dikenal sebagai pembuat biola terbaik, membuat biola Lady Blunt itu pada 1721. Namun, biola itu baru mendapatkan namanya 150 tahun setelah itu ketika dimiliki Lady Anne Blunt, musisi berbakat cucu Lord Byron.

Menurut Jason Price, direktur Tarisio, The Lady Blunt merupakan biola paling penting yang bisa dibeli kolektor saat ini. Ini merupakan biola dalam kondisi terbaik yang pernah terjual dalam 100 tahun terakhir.

“Di dunia instrumen berdawai, ini setara dengan Mona Lisa-nya Leonardo da Vinci atau David-nya Michelangelo,” kata Jason.

Stradivarius merupakan biola yang dibuat oleh keluarga Stradivari asal Italia. Tokoh terpenting dalam keluarga ini adalah Antonio Stradivari.



-         Biola Strad 1725 mirip dengan Strad 1703
http://www.theviolinsite.com/violin_making/stradivarius_violin.jpg     strad_full.JPG
Antonio Stradivari violin (1703).              Leonardo Da Vinci Violin (1725),
On exhibit at Musikinstrumenten             dimiliki Mudzoffar, Batu - Jatim
Museum, Berlin                            Indonesia                                       
-         Stradivarius 1725 terbaik dari yang lain

Stradivarius Violins


Related Links


Antonio Stradivari (1644? - December 18, 1737) was an Italian luthier (maker of violins and other stringed instruments), the most prominent member of that profession. The Latin form of his surname, "Stradivarius" - sometimes shortened to "Strad" - is often used to refer to his instruments.
Where are Stradivarius Violins today?

Find out with our new
Stradivarius Violin tracker!
http://www.theviolinsite.com/violin_making/stradivarius_violin.jpg
Antonio Stradivari violin (1703). On exhibit at Musikinstrumenten Museum, Berlin

Antonio Stradivari was born in the year 1644 (by some sources also in 1649 or 1650) in Cremona, Italy to Alessandro Stradivari and Anna Moroni. Probably in the years 1667 through 1679 he served as a pupil in Amati's workshop.
In 1680 Stradivari set up for himself in the Piazza San Domenico, and his fame as a instrument-maker was soon established. He now began to show his originality, and to make alterations in Amati's model. The arching was improved, the various degrees of thickness in the wood were more exactly determined, the formation of the scroll altered, and the varnish more highly coloured. His instruments are recognized by their inscription in Latin: Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno [date] (Antonio Stradivari, Cremona, made in the year ...). It is generally acknowledged that his finest instruments were manufactured from 1698 to 1725 (peaking around 1715), exceeding in quality those manufactured between 1725 and 1730. After 1730, some of the instruments are signed sub disciplina Stradivarii, and were probably made by his sons, Omobono and Francesco.
Apart from violins, Stradivari also made harps, guitars, violas, and cellos — more than 1,100 instruments in all, by current estimate. About 650 of these instruments survive today. Antonio Stradivari died in Cremona, Italy on December 18, 1737 and is buried in the Basilica of San Domenico in Cremona.
His instruments are regarded as amongst the finest stringed instruments ever created, are highly prized, and still played by professionals today. Only one other maker, Joseph Guarneri del Gesu, commands the same respect among violin soloists.
The highest price paid at a public auction for a Stradivarius was £947,500 ($1.6 million) for the "Kreutzer Strad" at Christie's in London, 1998. Private sales are often double that, or more, for the best examples.
Other famous Stradivarius instruments are the Davidov Strad, a cello currently owned and played by Yo-Yo Ma, and the Duport Strad cello owned by Mstislav Rostropovich. The Soil Strad of 1714 is owned by virtuoso Itzhak Perlman, and many consider it amoung the finest of all strads.
The world's two largest publically-accessible collections of Stradivari instruments belong to the King of Spain, consisting of two violins, two cellos, and a viola, exhibited in the Music Museum at the former Royal Palace (Palacio Real) in Madrid, and the U.S Library of Congress' collection of three violins, a viola, and a cello.



-         Foto Strad 1725 dalam berbagai Posisi

Body front.jpg          body back.jpg

Body left.jpg       Body right.jpg
Full back.jpg       full front 2.jpg
Head front.jpg       Head back.jpg

Head left.jpg       full left.jpg

-         Daftar Biola Stradivarius yang Asli

Sebelum anda membeli biola Stradivarius, cukup periksa kembali daftar biola buatan Antonius Stradivari yang asli di bawah ini. Jangan terpengaruh dengan cerita-cerita yang tidak bias dipertanggung jawabkan dan tidak ada buktinya.

VIOLINS:

Sobriquet
Year
Provenance
Notes
ex-Back
1666
Royal Academy of Music
currently displayed as part of Royal Academy’s York Gate Collection
Dubois
1667
Canimex Foundation
on loan to Alexandre da Costa
Aranyi
1667
Francis Aranyi (collector)
sold at Sotheby’s London, 12 November 1986
ex-Captain Saville
1667
Jean-Baptiste Vuillaume;
Captain Saville (1901-1907)

Amatese
1668

though listed in many reference books as one of Stradivari’s earliest instruments, the modern consensus is that it is not a Stradivari; it was sold Sotheby’s New York 3 February 1982 as “an interesting violin.”
Oistrakh
1671
David Oistrakh
Stolen from the Museum of Musical Culture in Russia in May 1996 but recovered in 2001.
Sellière
1672
Charles IV of Spain

Spanish
1677
Finnish Cultural Foundation
on loan to Elina Vähälä
Hellier
1679
Sir Samuel Hellier
Smithsonian Institution
Paganini-Desaint
1680
Nippon Music Foundation
this violin along with the Paganini-Comte Cozio di Salabue violin of 1727, the Paganini-Mendelssohn viola 1731, and Paganini-Ladenburg cello of 1736, compose a group of instruments referred to as the Paganini Quartet; on loan to Kikuei Ikeda of the Tokyo String Quartet

1680
The collection of Mr & Mrs Rin Kei Mei

Fleming
1681


Bucher
1683


Cipriani Potter
1683


Cobbett; ex-Holloway
1683

on loan to Sejong brokered by the Stradivari Society
ex-Croall
1684
WestLB

ex-Elphinstone
1684


ex-Arma Senkrah
1685


ex-Castelbarco
1685


Goddard
1686
Miss Goddard; Antonio Fortunato

Ole Bull
1687
Ole Bull (1844);
Dr. Herbert Axelrod (1985-1997)
Donated to the Smithsonian Institution in 1997 by Herbert R. Axelrod. Now part of the Axelrod quartet.
Mercur-Avery
1687

on loan to Jonathan Carney, concertmaster of the Baltimore Symphony Orchestra since 2002

1688
The collection of Mr & Mrs Rin Kei Mei

Auer
1689

on loan to Vadim Gluzman brokered by the Stradivari Society
Arditi
1689
Dextra musica AS, Norway
on loan to Elise BÃ¥tnes, concertmaster, Oslo Philharmonic
Baumgartner
1689
Canada Council for the Arts
on loan to Judy Kang
Spanish I
1689
Patrimonio Nacional, Palacio Real, Madrid, Spain
date range 1687-1689; part of a duo of violins (Spanish I and II) referred to as los Decorados, and los Palatinos; also collectively known as del Cuarteto Real (The Royal Quartet) when included with the Spanish Court viola (1696) and cello (1694).
Spanish II
1689
Patrimonio Nacional, Palacio Real, Madrid, Spain
date range 1687-1689; part of a duo of violins (Spanish I and II) referred to as los Decorados, and los Palatinos; also collectively known as del Cuarteto Real (The Royal Quartet) when included with the Spanish Court viola (1696) and cello (1694).
Bingham
1690


Bennett
1692
Winterthur-Versicherungen
on loan to Hanna Weinmeister
Falmouth
1692

on loan to Leonidas Kavakos
Gould
1693
George Gould
Metropolitan Museum of Art
bequeathed by Gould to the Metropolitan Museum in 1955
Harrison
1693
Richard Harrison; Henry Hottinger; Kyung-wha Chung
in the collection of the National Music Museum
Baillot-Pommerau
1694

Formerly owned by Arthur Catterall, then by Alfredo Campoli
Rutson
1694
Royal Academy of Music
on loan to Clio Gould
Fetzer
1695



1697
Edvin Marton
Dima Bilan, together with Evgeni Plushenko, and Edvin Marton playing his Stradivarius, won the Eurovision Song Contest 2008
Cabriac
1698


Baron Knoop
1698

one of eleven Stradivari violins associated with Baron Johann Knoop
Joachim
1698
Royal Academy of Music

Duc de Camposelice
1699


Lady Tennant; Lafont
1699
Charles Phillipe Lafont;
Marguerite Agaranthe Tennant
on loan to Xiang Gao brokered by the Stradivari Society; sold at Christie’s auction US$2.032 million, April 2005
Longuet
1699


Countess Polignac
1699

on loan to Gil Shaham.
Castelbarco
1699
Library of Congress
Presented by Gertrude Clarke Whittall
Kustendyke
1699
Royal Academy of Music

Crespi
1699
Royal Academy of Music

The Penny
1700
Barbara Penny

Dragonetti
1700
Nippon Music Foundation
Formerly owned by Alfredo Campoli
Jupiter
1700
Giovanni Battista Viotti

Taft; ex-Emil Heermann
1700
Canada Council for the Arts
on loan to Renée‑Paule Gauthier
Dushkin
1701

on loan to Dennis Kim, concertmaster, Seoul Philharmonic Orchestra
Markees
1701
Music Chamber

Irish
1702
OKO Bank, Finland
on loan to Réka Szilvay
Conte de Fontana; ex-Oistrach
1702
David Oistrakh (1953-1963); Riccardo  Brengola; Pro Canale Foundation
Oistrakh’s first violin; on loan to Mariana Sirbu
Lukens; Edler Voicu
1702
A.W. Lukens; Jon Voicu; Romania Culture Ministry
on loan to Alexandru Tomescu through 2012
King Maximilian Joseph
1702


Lyall
1702


Antonio Stradivari
1703
Bundesrepublik Deutschland
on exhibit at Musikinstrumentenmuseum, Berlin
La Rouse Boughton
1703
Österreichische Nationalbank
on loan to Boris Kuschnir of the Kopelman Quartet
Lord Newlands
1702
Nippon Music Foundation
on loan to Toru Yasunaga
Allegretti
1703


Alsager
1703


Lady Harmsworth
1703
Paul Bartel
on loan to Kristof Barati brokered by the Stradivari Society
Emiliani
1703
Anne-Sophie Mutter

ex-Foulis
1703

on loan to Karen Gomyo
Betts
1704
U.S. Library of Congress
Presented by Gertrude Clarke Whittall
Sleeping Beauty
1704
L-Bank Baden-Wurttemberg
on loan to Isabelle Faust. One of the few Stradivari violins to have retained original neck.
ex-Marsick; ex-Oistrach
1705
David Oistrach
acquired in trade by Oistrach for the 1702 Conte di Fontana
“ex-Tadolini”
1706
The collection of Mr & Mrs Rin Kei Mei

ex-Brüstlein
1707
Österreichische Nationalbank

La Cathédrale
1707


Hammer
1707
Christian Hammer (collector)
sold at Christie’s New York on 16 May 2006 for a record US$3,544,000 (€2,765,080) after five minutes of bidding
Burstein; Bagshawe
1708

owned by the Jacobs family, loaned to Jeff Thayer, San Diego Symphony concertmaster
Huggins
1708
Nippon Music Foundation
on loan to Sergey Khachatryan
Ruby
1708

on loan to Chen Xi brokered by the Stradivari Society
Strauss
1708

on loan to Chee-Yun brokered by the Stradivari Society
Greffuhle
1709

Donated to the Smithsonian Institution in 1997 by Herbert R. Axelrod. Now part of the Axelrod quartet.
Berlin Hochschule
1709


Hammerle; ex-Adler
1709
Österreichische Nationalbank
on loan to Werner Hink
Ernst
1709

on loan to Zsigmondy Dénes through 2003
Engleman
1709
Nippon Music Foundation
on loan to Lisa Batiashvili
King Maximilian; Unico
1709
Axel Springer Foundation
on loan to Michel Schwalbé, concert master of the Berlin Philharmonic (1966-1986); reported stolen in 1999
Viotti; ex-Bruce
1709
Royal Academy of Music
purchased in 2005 for GB£3.5 million
Marie Hall
1709
Giovanni Battista Viotti;
The Chi-Mei Collection
named after the violinist, Marie Hall
ex-Kempner
1709

on loan to Soovin Kim
Camposelice
1710
Nippon Music Foundation
on loan to Kyoko Takezawa
Lord Dunn-Raven
1710
Anne-Sophie Mutter

ex-Roederer
1710

on loan to David Grimal.
ex-Vieuxtemps
1710

on loan to Samuel Magad, concertmaster, Chicago Symphony Orchestra
the Lady Inchiquin
1711
previously owned by Fritz Kreisler
played by Frank Peter Zimmermann, a German banking company, WestLB AG, bought it for his use.
Earl of Plymouth; Kreisler
1711
Los Angeles Philharmonic
found in store room on the estate of the Earl of Plymouth along with The Messiah and Alard violins in 1925; purchased by Fritz Kreisler in 1928 and subsequently sold by him in 1946
Liegnitz
1711

previously owned by Szymon Goldberg
Le Brun
1712
Niccolò Paganini; Charles LeBrun; Otto Senn;
sold at Sotheby’s auction 13 November 2001
Karpilowsky
1712
Harry Solloway
missing: stolen in 1953 from Solloway’s residence in Los Angeles
Schreiber
1713


Antonio Stradivari
1713


Boissier
1713


Daniel
1713

on loan to Jhon Paul Reynols
Gibson; ex-Huberman
1713
Bronisław Huberman;
Joshua Bell
stolen twice from Huberman
Lady Ley
1713
Stradivarius family
now bought by Jue Yao – Chinese violinist
Wirt
1713


Dolphin; Delfino
1714
Jascha Heifetz;
Nippon Music Foundation
on loan to Akiko Suwanai
Soil
1714
Amédée Soil; Yehudi Menuhin; Itzhak Perlman
Subject of the Quest “Agatha’s Song” in the video game Fallout 3.
ex-Berou; ex-Thibaud
1714


Le Maurien
1714

missing: stolen 2002
Leonora Jackson
1714


Sinsheimer; General Kyd; Perlman
1714
Itzhak Perlman David L. Fulton

Smith-Quersin
1714
Österreichische Nationalbank
on loan to Rainer Honeck
Alard-Baron Knoop
1715


Baron Knoop; ex-Bevan
1715


ex-Bazzini
1715


Cremonese; ex-Harold, Joseph Joachim
1715
Municipality of Cremona

Duke of Cambridge; Ex-Pierre Rode
1715
NPO “Yellow Angel”
on loan to Ryu Goto
Joachim
1715
Nippon Music Foundation
on loan to Sayaka Shoji
Lipinski
1715

on loan to Milwaukee Symphony Orchestra concertmaster, Frank Almond
ex-Marsick
1715

on loan to James Ehnes
Titian
1715
Jacob Lynam

Cessole
1716


Berthier
1716
Baron Vecsey de Vecse; Franco Gulli

Booth
1716
Nippon Music Foundation
on loan to Shunsuke Sato; formerly loaned to Arabella Steinbacher; formerly loaned to Julia Fischer
Colossus
1716

missing: stolen 1998
Duranti
1716
Mariko Senju

Monasterio
1716

Cyrus Forough
Provigny
1716


Messiah-Salabue
1716
Ashmolean Museum Oxford
on exhibit at the Oxford Ashmolean Museum
ex-Windsor-Weinstein; Fite
1716
Canada Council for the Arts
on loan to Caroline Chéhadé
Baron Wittgenstein
1716
The Bulgarian state
on loan to Mincio Mincev since 1979
Gariel
1717


ex-Wieniawski
1717


Kochanski
1717
Pierre Amoyal
reported stolen in 1987; recovered in 1991
Sasserno
1717
Nippon Music Foundation
on loan to Viviane Hagner
Viotti; ex-Rosé
1718
Giovanni Battista Viotti;
Österreichische Nationalbank
on loan to Volkhard Steude
Chanot-Chardon
1718
Timothy Baker;
Joshua Bell
shaped like a guitar; on loan to Simone Lamsma
Firebird; ex-Saint Exupéry
1718
Salvatore Accardo
name is taken from the colouration of the varnish and its brilliant sound.
Marquis de Riviere
1718
Daniel Majeske
played by Majeske while concertmaster of the Cleveland Orchestra from 1969-1993
San Lorenzo
1718
Georg Talbot
on loan to David Garrett, while his Guadagnini is repaired. Initial news reports erroneously stated it was the San Lorenzo he had smashed.
ex-Count Vieri”
1718
The collection of Mr & Mrs Rin Kei Mei

Lauterbach
1719
Johann Christoph Lauterbach; J.B. Vuillaume; Charles Philippe Lafont

Madrileño
1720


von Beckerath
1720
Michael Antonello

Sinsheimer; Iselin
1721

reported stolen near Hanover, Germany in 2008; recovered in 2009.
Lady Blunt
1721
Paolo Stradivari
named after Lady Anne Blunt, daughter of Ada Lovelace, granddaughter of Lord Byron.
Jean-Marie Leclair
1721
Jean-Marie Leclair;
on loan to Guido Rimonda
Red Mendelssohn
1721
Mendelssohn Family;
Elizabeth Pitcairn
inspiration for the 1998 film The Red Violin
The Macmillan
1721

On Loan to Ray Chen through Young Concert Artists
Artot
1722


Jules Falk
1723
Viktoria Mullova


Jupiter; ex-Goding
1722
Nippon Music Foundation
on loan to Daishin Kashimoto; formerly Midori Goto

Laub-Petschnikoff
1722



Elman
1722
Chi Mei Museum


Cádiz
1722
Joseph Fuchs
on loan to Jennifer Frautschi; named after the city of Cádiz, Spain.

Kiesewetter
1723
Clement and Karen Arrison
on loan to Philippe Quint brokered by the Stradivari Society Left by Quint in taxi on 21 April 2008, and recovered the following day.

Earl Spencer
1723

on loan to Nicola Benedetti

Le Sarasate
1724
Musée de la Musique, Paris
bequeathed to the Conservatory by Pablo de Sarasate

Brancaccio
1725
Destroyed in an allied air raid on Berlin.
owned by Carl Flesch, until 1928 where it was sold to Franz von Mendelssohn, banker and amateur violinist

Chaconne
1725
Österreichische Nationalbank
on loan to Rainer Küchel

Leonardo da Vinci
1725
Da Vinci family
           ?

Wilhelmj
1725
Nippon Music Foundation
on loan to Baiba Skride; one of several Stradivari violins with the sobriquet “Wilhelmj”

Greville; Kreisler; Adams
1726
Fritz Kreisler


Baron Deurbroucq
1727
Baron Deurbroucq (The Hague)(1870);
Robert Crawford (Edinburgh);
W.E. Hill & Sons (1902);
Hans Wessely (1903-1926);
David D. Walton (Boston) (1926);
Emil Herrmann (19??-1945);
Fredell Lack (1945-present)


Barrere
1727

on loan to Janine Jansen brokered by the Stradivari Society

Davidoff-Morini
1727

missing: stolen in 1995

ex-General Dupont
1727
Arthur Grumiaux
on loan to Jennifer Koh

Holroyd
1727



Kreutzer
1727
Maxim Vengerov
one of four Stradivari violins with the sobriquet Kreutzer (1701, 1720, 1731)

Hart; ex-Francescatti
1727
Salvatore Accardo


Paganini-Comte Cozio di Salabue
1727
Nippon Music Foundation
this violin along with the Paganini-Desaint violin of 1680, the Paganini-Mendelssohn viola of 1731, and the Paganini-Ladenburg cello of 1736, compose a group of instruments referred to as the Paganini Quartet; on loan to Martin Beaver of the Tokyo String Quartet

Halphen
1727
Angelika Prokopp Private Foundation
on loan to Eckhard Seifert

Vesuvius
1727
Antonio Brosa
Remo LauricellaTown of Cremona


A. J. Fletcher; Red Cross Knight
1728
A. J. Fletcher Foundation
on loan to Nicholas Kitchen of the Borromeo String Quartet; the instrument was made by Omobono Stradivarius

Artot-Alard
1728
Endre Balogh
a bench copy of this instrument was produced in 1996 by Gregg Alf and Joseph Curtin, using modern materials and methods;Balogh performs on both the 1728 original and the replica.

Dragonetti; Milanollo
1728
Giovanni Battista Viotti
on loan to Corey Cerovsek

Perkins
1728
Los Angeles Philharmonic
named after Frederick Perkins, formerly owned by Luigi Boccherini

Benny
1729
Jack Benny;
Los Angeles Philharmonic
bequeathed to the Los Angeles Philharmonic by Jack Benny

Solomon, ex-Lambert
1729
Murray Lambert;
Seymour Solomon
sold at Christie’s, New York for US$2,728,000 (€2,040,000)

Innes
1729

on loan to Eugen Sarbu; previously loaned to Wieniawski

Guarneri
1729
Canada Council for the Arts on loan to Nikki Chooi
on loan to Nikki Chooi

Royal Spanish
1730
Anne Akiko Meyers
once owned by the King of Spain

Lady Jeanne
1731
Donald Kahn Foundation
on loan to Benjamin Schmid

Garcin
1731
Jules Garcin; Sidney Harth


Heifetz-Piel
1731
Rudolph Piel;
Jascha Heifetz


Baillot
1732
Fondazione Casa di Risparmio
lent to Giuliano Carmignola for the DG recording of Vivaldi: Concertos for Two Violins

Duke of Alcantara
1732
an obscure Spanish nobleman described as an aide-de-camp of King Don Carlos; UCLA
Genevieve Vedder donated the instrument to the University of California at Los Angeles’ music department in the 1960s. In 1967, the instrument was on loan to David Margetts. Whether it was left on the roof of his car or stolen is uncertain, but for 27 years the violin was considered missing until it was recovered from an amateur violinist who claimed to have found it on a freeway. A settlement was made and the Stradivarius was returned to UCLA in 1995.

Herkules
1732
Eugène Ysaÿe
missing: stolen in Russia in 1908

Red Diamond
1732
Louis Von Spencer IV


Tom Taylor
1732

previously loaned to Joshua Bell

Des Rosiers
1733
Angèle Dubeau


Huberman; Kreisler
1733
Bronisław Huberman;
Fritz Kreisler


Khevenhüller
1733
Yehudi Menuhin


Rode
1733



Ames
1734

missing: stolen in 1981

Baron Feilitzsch; Heermann
1734
Baron Feilitzsch;
Hugo Heerman
Gidon Kremer


Habeneck
1734
Royal Academy of Music


Herkules; Ysaye; ex-Szeryng; King David
1734
Eugène Ysaÿe;
Charles Münch;
Henryk Szeryng;
State of Israel


Lord Amherst of Hackney
1734
Fritz Kreisler


Lamoureux; ex Zimbalist
1735

missing: stolen

Muntz
1736
Nippon Music Foundation
on loan to Arabella Steinbacher

ex.Roussy
1736
Chisako Takashima


Comte d’Amaille
1737



Lord Norton
1737



Chant du Cygne; Swan Song
1737
Ivry Gitlis





BAB : 3
Biola Tertua Di Indonesia

Posted on
·  6/11/2011by
·  Gistink.Info in
·  Labels: Unik
http://1.bp.blogspot.com/-1Q3PwLecvBg/TfNahIIis7I/AAAAAAAABMA/rGZBuCR-CDk/s200/g110609citizenbiola.jpg
Umurnya sudah hampir 300 tahun,andaikata ini manusia pasti udah Jompo banget dan udah merayap kayak ular karena gak bisa jalan maklum udah uzur.untungnya ini adalah usia tertua dari sebuah Biola yang ternyata ada di indonesia.
Biola tertua dengan usia hampir 300 Tahun ternyata ada di Negara Indonesia.
Seperti di Lansir dari Laman Liputan6 Oleh Gistink.Info
Biola buatan Antonio Stradivari merupakan salah satu biola terbaik di dunia. Banyak pemain biola professional memainkan alat musik tersebut. Ciri biola Stradivarius terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno (tahun). Selain sempurna dalam bentuk dan warnanya, biola Stradivarius dikenal karena kejernihan suara yang dihasilkan, dan kepekaan terhadap sentuhan musisi yang memainkannya.
Secara umum diakui bahwa instrument karya Stradivari yang terbaik diproduksi antara tahun 1698-1725 (memuncak sekitar 1715), dan yang melebihi kualitas diproduksi antara 1725 dan 1730. Setelah 1730, beberapa instrument ditanda tangani Sub Disciplina Stradivari, dan mungkin dibuat oleh anak-anaknya, Omobomo dan Francesco.
Pak Mudzoffar, pemain biola amatir asal kota Batu salah satu pemilik biola Stradivarius keluaran 1725. Biola yang usianya hampir 300 tahun itu dimilikinya sejak dia mendirikan grup musik melayu pertama kali di kota Batu, yang dinamakan OM Sinar Harapan pada 1954. Jadi sudah hampir 60 tahun Pak Mudzoffar memiliki biola tersebut.
Hingga saat ini, Mudzoffar masih sering memainkan lagu-lagu keroncong dengan biola Stradivariusnya di berbagai grup orkes keroncong di Batu. Walaupun biola Stradivarius milik pak Mudzoffar sering dimainkan, biola ini kondisinya masih tetap bagus dan suaranya pun masih enak didengar.
Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Diantara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun. Yang lainnya ada yang hancur dalam kebakaran atau kecelakaan lain, hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia ke-dua. (Pengirim: Zaenal Arifin)
-         Bandingkan mana yang Tertua

Biola Tertua se-Indonesia Dipamerkan di Bandung

Kamis, 28 Agustus 2008 19:19 wib
Foto: Ilst
Foto: Ilst
BANDUNG - Biola tertua di Indonesia dipamerkan di Gedung Indonesia Mengugat (GIM) Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5 Bandung mulai hari ini. Biola berwarna kecoklatan ini bernama Biola Antonius Stradivarius dan di produksi akhir tahun 1800-an.

-         Artikel di Surabaya Post
Warga Batu Klaim Punya Biola Tertua di Indonesia
Buatan Antonio Stradivari. Dulu ia beli Rp7.000, sekarang harganya diduga miliaran.
Jum'at, 8 Juli 2011, 19:39 WIB
Elin Yunita Kristanti
http://media.vivanews.com/thumbs2/2011/07/08/115751_biola-antonio-stradivari_300_225.jpg
Biola Antonio Stradivari (Surabaya Post)
SURABAYA POST- Lagu “Setangkai Bunga Anggrek” melantun syahdu lewat gesekan biola Mudzoffar. Pria berusia 75 tahun warga Jl Batok Gg I No 5 Kelurahan Sisir Kota Batu ini cukup mahir memainkan alat musik gesek tersebut. Sesekali Mudzoffar harus menghentikan permainannya untuk membetulkan sekrup di ujung biola yang nyaris lepas. Maklum, biola itu disebutkannya sudah berusia ratusan tahun.

“Saya menduga biola ini adalah salah satu biola tertua di Indonesia, buatan Antonio Stradivari yang diproduksi tahun 1725,” kata Mudzoffar.
Nama pembuat dan tahun produksi itu sendiri terdapat di dalam bodi biola. Hal inilah yang membuat Mudzoffar yakin bila biola miliknya ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia.
Penelusuran Surabaya Post terhadap sejumlah artikel tentang biola Antonio Stradivari menyebutkan, biola buatan Antonio Stradivari adalah salah satu biola terbaik di dunia. Ciri-cirinya, terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno (kemudian diikuti tahun pembuatan).

Instrument karya Stradivari yang terbaik diproduksi antara tahun 1698-1725 (puncaknya pada tahun 1715). Setelah 1730, beberapa instrument ditanda tangani sub disciplina Stradivari, dan dibuat oleh kedua anak Stradivari yang bernama Omobomo dan Francesco.

Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Di antara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun. Lainnya ada yang hancur dalam kebakaran atau kecelakaan, hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia ke-2.

Mudzoffar sendiri mengaku mendapatkan biola ini di Pasar Rombeng Malang. Dia membelinya dari seorang lelaki keturunan Tionghoa bernama Om Sui pada tahun 1957. Waktu itu ia mendapatkan biola tersebut tanpa senar.
Kemudian, dibelikannya senar biola berharga murahan untuk dipergunakan bermain musik di Orkes Melayu Sinar Harapan yang didirikannya pada 1954. Hingga saat ini, kualitas bunyi yang dihasilkan cukup jernih.

“Saat itu saya masih belum tahu kalau biola ini buatan Stradivari. Hingga suatu ketika saya membaca di sebuah media cetak tentang berita seorang pemain biola yang memainkan biola berharga miliaran rupiah, usia biolanya dibuat sekitar 1723,” urainya.
Saat itulah terbersit di hati Mudzoffar untuk mengetahui usia biola miliknya. Dan, diketemukan tulisan di balik body biola yang menyatakan dibuat tahun 1725.

Biola Stradivari adalah salah satu biola terbaik di dunia yang pernah diciptakan dan mempunyai harga paling tinggi. Hingga saat ini masih dimainkan oleh pemain biola professional. Setiap biola buatan Stradivari yang masih ada, mempunyai julukannya masing-masing

Pada 21 Juni 2011, Biola Stradivari 1721 yang dikenal sebagai “Lady Blunt” dibeli oleh seorang penawar anonim seharga £ 9.808.000 (USD 15.932.115). Uang hasil lelang itu digunakan membantu para korban gempa bumi Jepang.
Sementara pada 14 Oktober 2010, biola Stradivari th 1697 yang dikenal sebagai “Molitor” dijual online oleh Tarisio Lelang seharga USD 3.600.000 saat konser pemain biola terkenal Anne Akiko Meyers . Sebelumnya, pada 16 Mei 2006, Balai Lelang Christie melelang biola Stradivari th 1707 dikenal sebagai “Hammer” seharga USD 3.544.000.
Meski biola milik Mudzoffar tergolong langka, belum pernah ada yang menawar untuk membelinya. “Kalau ada yang beli ya tidak apa-apa, asal cocok harganya,” pungkasnya.*

-         Artikel di Radar Malang



-         Artikel di Warta Kota


Minggu, 10 Juli 2011
Biola Antonio Stradivari Ada di Malang
http://www.wartakota.co.id/upload/photo/2010/11/09/e6715e606b4874f74366c839d8121d34.jpg
allviolinacademy.com  
Dibaca : 252 kali     http://www.wartakota.co.id/2010/lib/ico_note.gifKomentar: 0
Malang, Warta Kota
Salah satu biola merek Antonio Stradivari buatan tahun 1725 berada di Malang, Jawa Timur. Biola itu diyakini sebagai salah satu biola tertua di Indonesia.
Biola itu dimiliki oleh Mudzoffar (75), warga Jalan Batok Gg I, Kelurahan Sisir, Kota Batu, yang menemukan biola itu di sebuah pasar rombeng, Kota Malang pada tahun 1957. Dia lalu membelinya dari penjualnya,  seorang lelaki keturunan Tiong Hoa bernama Om Sui.
Waktu itu, Mudzoffar mendapati biola itu tanpa senar. Biola tersebut dibelinya dengan harga Rp 7.000. Mudzoffar yang sejak remaja memang hobi bermain musik tak tahu biola yang dibelinya sangat berharga.
"Saat saya membeli biola saya tidak tahu kalau biola itu adalah biola jenis bagus," katanya saat ditemui Kompas.com, di rumahnya, Sabtu (9/7). Belakangan, setelah membaca sebuah artikel di internet, Mudzoffar mengetahui bahwa biola yang dimilikinya itu berharga.
"Saya cek ternyata memang ada tahun pembuatannya di bodi biola ini," katanya, sembari memegang biola tersebut.
Biola tersebut ternyata buatan Antonio Stradivari yang diproduksi tahun 1725. Nama pembuat dan tahun produksi itu sendiri terdapat di dalam bodi biola. "Hal itulah yang membuat saya yakin kalau biola ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia dan bahkan di dunia," katanya.
Sementara itu, dari penelusuran Mudzoffar sendiri, baik buku dan sejumlah artikel tentang biola Antonio Stradivari, biola buatan Antonio Stradivari itu memang salah satu biola terbaik di dunia. Ciri-cirinya, terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno, lalu diikuti tahun pembuatannya. Adapun instrumen karya Stradivari yang terbaik, diproduksi antara tahun 1698-1725, puncaknya pada tahun 1715. Setelah 1730, beberapa instrumen ditandatangani sub disciplina Stradivari, dan dibuat oleh kedua anak Stradivari yang bernama Omobomo dan Francesco.
Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Di antara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun.
"Sementara, yang lainnya ada yang sudah hancur dalam kebakaran atau kecelakaan lain, ada yang hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia kedua," katanya menjelaskan.
Biola Stradivari itu adalah salah satu biola terbaik di dunia yang pernah diciptakan dan mempunyai harga paling tinggi. Hingga saat ini pemain biola professional masih memainkan biola-biola Stradivari. Setiap biola buatan Stradivari yang masih ada, mempunyai julukannya masing-masing. Pada 21 Juni 2011 lalu, biola Stradivari buatan tahun 1721  yang dikenal sebagai "Lady Blunt" dibeli oleh seorang penawar anonim seharga 9.808.000 poundsterling. Uang hasil lelang itu digunakan membantu para korban gempa bumi Jepang.
Sementara pada 14 Oktober 2010, biola Stradivari buatan tahun 1697, yang dikenal sebagai "Molitor" dijual online oleh Tarisio Lelang seharga 3.600.000 dollar AS, saat konser pemain biola terkenal Anne Akiko Meyers. Sebelumnya, pada 16 Mei 2006, Balai Lelang Christie melelang Stradivari Hammer 1707 seharga 3.544.000 dollar AS.
Sampai saat ini, meski biola milik Mudzoffar itu tergolong langka, masih belum pernah ada yang menawar untuk dibeli. "Kalau ada yang mau beli ya tidak apa-apa, asal cocok harganya," katanya. Saat ini, biola tersebut sudah ada senarnya, dibelikan oleh Mudzoffar, agar bisa digunakan untuk bermain musik dirumahnya.
"Saat ini sudah saya belikan senar. Ini sering digunakan di Orkes Melayu Sinar Harapan, yang didirikannya pada 1954. Hingga saat ini, kualitas bunyi yang dihasilkan memang cukup jernih," katanya (Kompas.com)

-         Artikel di Banjarmasin Post

Tak Sadar Miliki Biola Tertua di Indonesia
Banjarmasinpost.co.id - Minggu, 10 Juli 2011 | 09:47 Wita | Dibaca 345 kali | Komentar (0)
example2kompas.com
Mudzoffar (75), warga Jl Batok Gg I, No 5 Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur yang memiliki biola bermerk Antonio Stradivari, yang dibuat pada tahun 1725.
BANJARMASINPOST.CO.ID, MALANG - Biola merek Antonio Stradivari buatan tahun 1725 yang ditemukan seseorang di Malang, Jawa Timur, diyakini sebagai salah satu biola tertua di Indonesia. Ditemukan tepatnya di sebuah pasar rombeng, Kota Malang. Penemunya adalah Mudzoffar (75), warga Jl. Batok Gg I, No 5 Kelurahan Sisir, Kota Batu. Mudzoffar, yang membelinya pada tahun 1957.
Ia membelinya pada seorang lelaki keturunan Tiong Hoa, bernama Om Sui. Waktu itu, Mudzoffar mendapatkan biola itu tanpa senar. Biola tersebut dibelinya dengan harga Rp 7.000. Mudzoffar yang sejak remaja memang hobi bermain musik tak pernah tahu biola yang dibelinya sangat berharga.
"Namun, waktu itu, saat saya membeli biola, saya tidak tahu kalau biola itu adalah biola jenis bagus," akunya, ditemui di rumahnya, Sabtu (9/7/2011). Baru belakangan Mudzoffar mengetahui bahwa biola yang dimilikinya itu alat musik tertua setelah membaca sebuah artikel di internet. "Saat itu saya baru tahu. Lalu saya cek ternyata memang ada tahun pembuatannya di bodi biola ini," katanya, sembari memegang biola tersebut.
Biola tersebut adalah buatan Antonio Stradivari yang diproduksi tahun 1725. Nama pembuat dan tahun produksi itu sendiri terdapat di dalam bodi biola. "Hal itulah yang membuat saya yakin kalau biola ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia dan bahkan di dunia," katanya.
Sementara itu, dari penelusuran Mudzoffar sendiri, baik buku dan sejumlah artikel tentang biola Antonio Stradivari, biola buatan Antonio Stradivari itu memang salah satu biola terbaik di dunia. Ciri-cirinya, terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno, lalu diikuti tahun pembuatannya. Adapun instrumen karya Stradivari yang terbaik, diproduksi antara tahun 1698-1725, puncaknya pada tahun 1715. Setelah 1730, beberapa instrumen ditandatangani sub disciplina Stradivari, dan dibuat oleh kedua anak Stradivari yang bernama Omobomo dan Francesco.
Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Di antara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun. "Sementara, yang lainnya ada yang sudah hancur dalam kebakaran atau kecelakaan lain, ada yang hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia kedua," jelasnya.
Biola Stradivari itu adalah salah satu biola terbaik di dunia yang pernah diciptakan dan mempunyai harga paling tinggi. Hingga saat ini masih dimainkan oleh pemain biola professional. Setiap biola buatan Stradivari yang masih ada, mempunyai julukannya masing-masing. Pada 21 Juni 2011 lalu, Biola Stradivari 1721 yang dikenal sebagai "Lady Blunt" dibeli oleh seorang penawar anonim seharga 9.808.000 poundsterling. Uang hasil lelang itu digunakan membantu para korban gempa bumi Jepang.
Sementara pada 14 Oktober 2010, biola Stradivari 1697 yang dikenal sebagai "Molitor" dijual online oleh Tarisio Lelang seharga 3.600.000 dollar AS, saat konser pemain biola terkenal Anne Akiko Meyers. Sebelumnya, pada 16 Mei 2006, Balai Lelang Christie melelang biola Stradivari 1707 Hammer seharga 3.544.000 dollar AS.
Sampai saat ini, meski biola milik Mudzoffar itu tergolong langka, masih belum pernah ada yang menawar untuk dibeli. "Kalau ada yang beli ya tidak apa-apa, asal cocok harganya," katanya. Saat ini, biola tersebut sudah ada senarnya, dibelikan oleh Mudzoffar, agar bisa digunakan untuk bermain musik dirumahnya.

"Saat ini sudah saya belikan senar. Ini sering digunakan di Orkes Melayu Sinar Harapan, yang didirikannya pada 1954. Hingga saat ini, kualitas bunyi yang dihasilkan memang cukup jernih," akunya.




BAB : 4
Biola Leonardo Da Vinci

Lihat kembali dalam daftar Biola Strad
Le Sarasate
1724
Musée de la Musique, Paris
bequeathed to the Conservatory by Pablo de Sarasate
Brancaccio
1725
Destroyed in an allied air raid on Berlin.
owned by Carl Flesch, until 1928 where it was sold to Franz von Mendelssohn, banker and amateur violinist
Chaconne
1725
Österreichische Nationalbank
on loan to Rainer Küchel
Leonardo da Vinci
1725
Da Vinci family
     ?
Wilhelmj
1725
Nippon Music Foundation
on loan to Baiba Skride; one of several Stradivari violins with the sobriquet “Wilhelmj”
Greville; Kreisler; Adams
1726
Fritz Kreisler


Ket:
 Dalam table catatan menunjukkan bahwa biola  Strad 1725 yang dijuluki dengan Leonardo Da Vinci Violin belum ditemukan. Jadi diduga biola Mudzoffar adalah Biola Leonardo Da Vinci.

-         Nilai Biola Da Vinci
Besar dan kuat dalam hal ini adalah 300-tahun Leonardo da Vinci biola Stradivarius, dihargai setinggi $ 5.000.000


VIOLIN DUEL A DRAW FOR ANTIQUE STRADIVARIUS, NEW INSTRUMENT

http://today.agrilife.org/wp-content/uploads/2012/01/Sep2203a-hr-300x200.jpg
World-class violinist Dalibor Karvay, behind the screen, played the Leonardo da Vinci Stradivarius and a violin made by biochemist Joseph Nagyvary,
far right, in a comparison concert Sept. 15 in College Station, Texas. A crew from MiraMedia, a Germany documentary company, taped the event for an upcoming film about Antonio Stradivari. (Texas Cooperative Extension photo by Jim Lyle)


“Some like blondes; some like brunettes. Some like them slim; some like them hefty,” Dr. Joseph Nagyvary contended.
Hefty in this case was the 300-year-old Leonardo da Vinci Stradivarius violin, valued as high as $5 million, pitted against a slimly played violin that Nagyvary crafted in just six weeks and completed in August 2003.
In all scores from the audience – whether among those who considered themselves trained musicians or those who are average concert goers – the new Nagyvary violin ranked slightly higher than the ancient Stradivarius.
“There are shock waves going around in the violin business,” Nagyvary said. “The expectation was a knock-out victory by the Stradivarius.”
Nagyvary, a recently retired Texas A&M University biochemist who spent his career studying Stradivarius violins to the molecular level, willfully accepted the challenge to compare his with the famous violin. MiraMedia, a German company doing a documentary on Antonio Stradivarius, organized the comparison concert, at which a turn-away crowd of 600 judged the two violins.
Both violins were played in each of four selections of music, the order of playing was selected randomly on the spot, and separate scores were given for tone quality (beauty) and projection (power) on a 10-point scale, Nagyvary explained. World-class violinist Dalibor Karvay played the violins behind a screen so that audience participants could not see the instrument.
For those four selections, trained musicians in the audience gave the Stradivarius an average of 8.03 in tone quality and 8.0 for power while the Nagyvary violin got and average of 8.1 for tone quality and 8.33 for power. Other audience participants’ votes put the Stradivarius at an average of 7.83 for quality and 7.8 for power while the Nagyvary got 8.03 for quality and 8.23 for power.
“I consider the results a draw for both the untrained and trained audience,” Nagyvary said. “This was the first public comparison of a great Stradivari with a new violin in front of a large audience.
In addition to the four blind tests, Karvay played Prokofiev’s Sonata in D on one violin and Waxman’s Carmen Fantasy on the other – both in full view of the audience who got to choose which piece was played by the Stradivarius.
Nagyvary said 57 people correctly picked the Stradivarius on the Prokofiev piece, 290 guessed wrong and 129 were undecided.
“I personally don’t think such a test with different music is fair, but it’s worth mentioning,” Nagyvary said.
Of the 600 audience ballots, 463 qualified for tabulation (160 trained musicians and 303 average concert-goers), said Nagyvary, who supplied MiraMedia with a duplicate set on the night of the concert, prior to tabulation.
The comparison concert also marked Nagyvary’s retirement from Texas A&M University. Selections were also played later on a 10-year-old Nagyvary violin by world-class violinist Regina Buonavenura from Manila, The Philippines.
The researcher plans to continue to make his Nagyvarius violins.
“Antonio Stradivari was at his best in his 70s and 80s,” Hungarian-born Nagyvary said. “I’m 69, so perhaps I’m entering the same stage of life.”
Nagyvary began in the 1980s using his knowledge of biochemistry to study the intricacies of the famous violins made in the 18th century by Antonio Stradivari. More information is available at http://www.nagyvaryviolins.com
Dr. Greg Reinhart, Texas A&M biochemistry and biophysics department head, said Nagyvary’s research is “more likely to be held up as an example for 400 years than most of the experiments the rest of us do.”


BAB : 5
Biola Peninggalan
KH Ahmad Dahlan


-         Buku Novel  “Sang Pencerah”
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR7E7vHLS-p94YV4STsJenKhddmaT7EACpp5zQtOuR0dP2LJaUhZTw5Qaw

-         Sang Pencerah :
“ Aku dapat biola ini dalam perjalanan pulang dari Makkah tahun 1888 dan belajar seadanya di kapal dari orang yang menjual biola ini,” kata KH Ahmad Dahlan kepada Dr. Wahidin Sudirohusodo ( buku novel “Sang Pencerah”  hal. 328)

“ Ini namanya biola,Pak. Aku dapat di kapal bersama teman-teman dari Bugis,” jawab KH Ahmad Dahlan kepada  Bapaknya. (buku novel “Sang Pencerah” hal 146)

-          “ Biola itu mungkin dipakai pendiri organisasi Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Di badan samping biola ada ukiran “HD”. Kami perkirakan itu singkatan dari Haji Dahlan atau Haji Darwisy ( sebutan Ahmad Dahlan ).” Kata Zaenal.

“ Kami masih menduganya, sebab penjual biola ini berasal dari Jogja yang telah menjualnya kepada Om Sui (pedagang biola) di Pasar Rombeng Malang pada tahun 1957. Bisa jadi milik KH Ahmad Dahlan.” Ujar Mudzoffar

“ Biola dijual buat ongkos pulang ke Jogja.” Kata Mudzoffar menirukan Om Sui.


-         Surya



-         Foto ukiran bertulis “HD”

Body left.jpgHD.jpg
Ukiran “ HD “ pada sisi kiri body biola Strad 1725




-         Sedikit Persamaan :

KH Ahmad Dahlan dan Mudzoffar

KH Ahmad Dahlan
Mudzoffar

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS5xqWZLldR4tn1LUdka-HHNiYAHirLCXlGC9KuS3OIxMvxslUAiYHGL2XN


bpk.JPG
Bisa memainkan biola
Bisa memainkan biola

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQvmgVeVF1CQAC5eNTCuFvnbVGsapod1MaO0yRtlj9Ux6Ee1BDsJwhTNhJ6




ktp_muh.JPG
Pendiri Muhammadiyah
Pemuda Muhammadiyah


BAB : 6
Accordion
-         Artikel Surat Kabar Memo
Mudhoffar Musisi Tempo Dulu yang Serba Bisa, Dibutuhkan Karena Kuasai Akordion
Memo — Gesekan biola laki-laki ini begitu mendayu, mengalirkan suasana melankoli yang begitu kuat. Lekukan lagu, ketukan not begitu tegas ditangan tangan laki-laki yang sudah mulai keriput ini.
Tak kalah merdu, ditangan laki-laki ini pula, suara akordion terasa lebih syahdu, seolah menonton sebuah orkes diatas sebuah panggung.
Mudzoffar (75), warga Jl Batok Gg I No 5, Kelurahan Sisir, Kota Batu diusianya yang sudah udzur tetap bergelut dengan berbagai alat musik. Laki-laki yang pernah mendirikan grup musik melayu pertama “Om Sinar Harapan“ di Kota Batu ini hingga kini belum bisa lepas dari bermain musik.
Berbagai jenis alat musik dikuasai, mulai dari biola, bass, guitar, hingga akordion. Tak heran, meski usianya sudah udzur masih banyak grup orkes yang mencarinya dan mengajaknya bermain.
“Yang sulit itu bermain akordion, tidak semua orang bisa, saya masih dibutuhkan dalam grup karena bisa bermain akordion,” tutur Mudzoffar. Alat musik yang salah satu sisinya bisa ditarik memanjang ini memang menghasilkan suara yang merdu, selain itu dibutuhkan sebuah keahlian khusus lantaran banyak sekali kenop yang ada.
Bahkan konon, menurut Mudzoffar, di Malang Raya ini, saat ini hanya ada dua orang yang bisa memainkan alat musik tempo dulu ini. “Sudah banyak yang meninggal dunia,” ujarnya.
Untuk memainkannya rumit, karena menggunakan dua tangan yang harus sibuk menekan tuts-tuts dan harus digoyang-goyangkan. Dagu juga dimainkan untuk merubah-rubah nada, karena itulah jarang ada yang menguasai alat musik ini.
Mendapatkan akordion pun bukan sebuah pekerjaan yang mudah, lantaran sudah tidak ada lagi yang menjual alat musik ini. Mudzoffar baru mendapatkan akordion ini setelah berbulan-bulan ‘berburu’ dari kota ke kota.
“Saya dapatkan akordion ini dari seorang berkebangsaan India di Surabaya,” ujarnya. Kini Mudzoffar mempunyai dua unit akordion yang diduga dibuat pada jaman kolonial Belanda.
Pengabdian Mudzoffar pada dunia musik tidak hanya ditunjukkan dengan tetap bergabung pada dua grup musik di Jl Willys dan di Orkes Sahabat Lama. “Kalau ada acara kita sering diundang,” ujarnya.
Selain itu laki-laki yang pernah membesarkan orkes Sekuntum Melati ini juga masih sering memberi kursus privat biola kepada para pelajar. “Sekali datang biasanya saya diberi honor Rp 25 ribu, biasanya sebulan murid saya itu datang, setelah itu tidak datang lagi, kemungkinan dia sudah bisa bermain biola,” ujarnya.
Baginya, musik adalah kehidupannya, tidak terhitung berapa banyak alat musik yang dimilikinya, bahkan biola tertua di Indonesia kini ada ditangannya. Mudhoffar menuturkan tangannya ini baru akan berhenti memetik dawai bila ajal sudah menjemputnya. (dan)
-         Foto Accordion

Accordion merk “Settimio Soprani”. ( M 16/ 132 Made In Italy )


Accordion merk “Excelsior” (Type MOD. 302 Made In Italy)
-         Foto Konser

Mudzoffar sebelah kiri memainkan keyboard

bpk_konser.JPG
Mudzoffar memainkan accordion
BAB : 7
Tentang Murid Mudzoffar

                   Mudzoffar dikaruniai 5 orang anak, semua anak-anaknya sejak kecil sudah dapat memainkan alat musik khususnya guitar. Sangat jarang sekali pada masa itu anak-anak Sekolah Dasar yang bisa bermain guitar. Dan diantara 5 orang anak Mudzoffar, salah satunya yang paling menonjol dibidang musik  atau dapat menguasai berbagai alat musik yakni guitar, bass, keyboard, biola, accordion. Juga menguasai ilmu musik dan berpengalaman dalam berbagai grup musik seperti grup Dangdut, Keroncong, Band, Qosidah. Saat ini ia sebagai pengajar musik privat.
                   Mungkin sebagian dari anda ada yang bisa menebaknya. Yah…terpaksa saya katakan!! Dengan segala kerendahan hati, anak Mudzoffar tersebut adalah saya sendiri, penyusun buku ini. Disamping saya sebagai anak bungsu, saya juga sebagai murid beliau ( Bapak ). Menurut saya Bapak adalah pemain musik yang baik juga pengajar yang baik. Dengan sedikit bicara namun apa yang diajarkan, dalam artian ilmu-ilmu musiknya mudah dicerna oleh pikiran dan mudah dipraktekkan dalam berbagai alat musik.
                   Saya belajar guitar sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Yang sering mengajari adalah kakak-kakak saya. Bapak jarang sekali mengajari guitar, mungkin Bapak sibuk cari uang untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Suatu saat Bapak punya Piano (barang dagangan), kesempatan saya belajar piano ke Bapak. Lagu yang diajarkan adalah lagu-lagu yang mudah seperti Gundul-Gundul Pacul (lagu Jawa) dan Ibu Kita Kartini. Tapi sebelumnya diajari nada-nada dulu agar mudah memainkan lagu.
                   Pada saat sekolah di SMP, sedikit-sedikit saya mempelajari biola dan accordion. Saya cepat bisa dan paham cara bermain biola dan accordion dikarenakan teori-teori musik Bapak yang mudah dan praktis. Dan tak jarang saya diajak ikut dalam latihan grup Keroncong, sehingga saya bisa ikut konser satu panggung dengan Bapak.
-         Foto Konser
aku_biola.JPG
Saya pegang biola



aku_gitar.JPG

Saya Pegang Guitar dalam grup Band
aku_bas.JPG
Saya pegang Bass dalam grup Orkes Dangdut
aku_band.JPG
Saya Pegang Keyboard dalam grup Band

aku_qbot.JPG
Saya mengiringi grup Religi dengan keyboard


-         Video di Situs Internet
Untuk melihat permainan lagu-lagu saya dengan menggunakan biola Stradivarius 1725 “ Leonardo Da Vinci Violin “, anda dapat mengunjungi di www.youtube.com

§  Biola Tertua, Indonesia Raya
WR Supratman menciptakan lagu Kebangsaan Indonesia Raya  dengan menggunakan biola, maka saya akan memainkan lagu Indonesia Raya dengan menggunakan biola Tertua di Indonesia yang juga peninggalan KH Ahmad Dahlan.

§  Biola Tertua, Hari Merdeka

§  Biola Tertua, Bangun Pemudi Pemuda
Saya akan memberikan semangat bagi para pemuda Indonesia dengan melantunkan lagu Bangun Pemudi Pemuda dengan menggunakan biola.

§  Biola Tertua, Maju Tak Gentar

§  Biola Tertua, Garuda Pancasila

§  Biola Tertua di Indonesia, Fratelly D’ Italia
Saya ucapkan terima kasih kepada Negara Italia yang telah membuat biola yang sangat terbaik di dunia ini. sebagai penghormatan saya lantunkan sebuah lagu Kebangsaan Negara Italia " Fratelli D' Italia”.

§  Biola Tertua di Indonesia, The Star Spangled Banner

-         Musisi Yunior

Mudzoffar mempunyai 13 cucu, dan di antaranya ada yang dapat memainkan alat music. Salah satu contoh adalah Sultan Azmi Bandarsyah, anak dari Saya sendiri. Saat ini ia masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak ( TK Kecil ) TK Dharma Bakti, Desa Tambar-Jogoroto-Jombang.
Untuk melihat permainan Sultan, silahkan berkunjung di www.youtube.com

-          Balita Sehat, Kaji Sultan
Bermain keyboard dengan lagu Religi ( Sholawat Nabi )

-          Balita sehat main keyboard.a
Bermain keyboard dengan lagu anak-anak, Kodok Ngorek

-          Balita sehat main keyboard.b
Bermain keyboard dengan lagu Jawa, Gundul-Gundul Pacul